Tag Archives: Serpihan

Untuk Cahaya di Langitku

Hari tanpamu adalah di mana aku melakukan kontemplasi dan berpikir. Merasakan adamu dalam ketiadaanmu. Kamu seperti cahaya di langitku yang kelabu. Kamu membuat sudut-sudut langitku kadang terang benderang, kadang juga redup. Adakalanya juga kamu menghilang dan membiarkan langitku gulita untuk beberapa saat. Tapi kamu selalu kembali meski hanya sekejap…

Continue reading Untuk Cahaya di Langitku

Membunuh Sepi

20-eye-tears-drawing

Aku pernah menyeduh sepi dan membunuh rindu. Tapi sudah lama sekali aku melakukannya. Aku menyeduh sepi bersama malam yang pekat, lalu aku membunuh rindu karena dia selalu datang tanpa permisi, tanpa basa-basi dan tak tahu waktu. Meski begitu, rindu dan sepi selalu tumbuh kembali. Seperti ekor cicak yang tumbuh lagi sehabis dipotong. Mereka selalu kembali… kembali…. dan kembali lagi.

Continue reading Membunuh Sepi

Bukit Penantian

images

Perempuan itu menunjuk sebuah bukit yang terlihat menjulang di kejauhan. Aku tercekat. Nafasku terhenti untuk sesaat, “Aku harus ke sana?” tanyaku padanya tanpa bisa menyembunyikan rasa terkejutku. Perempuan itu mengangguk. Aku menatapnya lurus-lurus, berharap tawanya pecah berderai lalu berkata padaku bahwa dia hanya bercanda. Tapi perempuan itu membalas tatapanku dengan ekspresi wajah yang tak berubah. Ah, rupanya dia tak bercanda. Sepertinya aku memang harus pergi ke bukit itu. Bukit Penantian…

Continue reading Bukit Penantian

Jelang Tengah Malam

Ada detak di setiap detik yang merambat pelan namun pasti. Merayap, beringsut pergi meninggalkan aku yang masih terjaga. Dia menghampiri tengah malam. Aku rebah dalam diam yang gaduh. Jelang tengah malam, sakit itu mulai merangsek masuk…

Lalu Suara-suara dari dalam rongga kepala mulai bermunculan. Semua bergumam lirih, mengeluarkan suara tak jelas serupa dengung kepak sayap rombongan lebah madu dan capung. Aku bisa mendengar mereka, tapi tak bisa mendengar apa yang disampaikan. Yang aku tahu, semua biasanya menyampaikan perintah untukku…

Jelang tengah malam, aku ditemani detak detik yang merayap di dinding kamarku. Dia bergerak pelan tapi pasti. Bergerak menjauhiku tapi sekaligus mengejar aku dan menghela aku untuk lari. Tentu saja aku menolak! “Sudah malam!” sergahku sambil menarik selimutku.

Jelang tengah malam, aku menanti sebuah keajaiban yang aku tahu tak akan tiba; kamu mengetuk pintu kamarku…

Jelang tengah malam, kepalaku masih berisik. Semakin berisik tapi tak ada suaramu di sana. Kamu hilang bersama rembulan yang bosan bertengger di langit. Aku rindu…