Tag Archives: #PerkaraRindu

Biarlah…

“Carpe diem, quam minimum credula postero”

Senja hari itu bergegas pergi. Dia meninggalkan selarik cahaya untuk lembayung di pelataran langit. Ketika malam mulai merangsek masuk, lembayung beringsut menepi lalu menghilang di balik kelabunya langit. Aku menatap perubahan yang terjadi sambil menghela nafas panjang. Berapa lama tadi? Entah. Tapi rasanya cepat sekali semua berlalu. Senja yang cantik tiba-tiba telah berganti malam. Hari akan segera berlalu…

Continue reading Biarlah…

Kamu Seperti…

Aku menatap cahaya matahari yang jatuh ke pangkuanku. Cahaya itu persis seperti kamu. Dekat, hangat tapi tak terjamah. Kita seperti ranting dan matahari. Saling menggapai namun tak bisa bersatu. Saling meraih tapi tak pernah bisa benar-benar dekat. Saling menatap namun tak pernah bisa saling mengecup.

Kamu seperti cahaya matahari. Menemaniku selalu, menghangatkan hariku, menerangiku tapi tak pernah bisa selalu ada bersamaku. Ada saatnya kamu bersinar begitu terang dan terik. Namun di kala yang lain, kamu tertutup awan dan kabut. Begitu samar dan jauh, meski aku tahu kamu ada.

Kamu seperti cahaya matahari yang jatuh di lembar-lembar buku yang terbuka. Sedikit menyilaukan mataku, tapi aku tak bisa membaca tanpamu. Sedikit menyakitkan, tapi aku membutuhkanmu.

Di Balik Senja Hari Ini

Lembayung senja hari ini terlihat pucat. Aku duduk di bawah pohon cherry yang masih berbunga. Kelopaknya beterbangan tertiup angin. Aku seolah dihujani kelopak bunga cherry. Lembayung mengintip dari sela-sela ranting dan bunga-bunga cherry yang berwarna putih susu. “Kenapa kamu sendirian?” tanya lembayung sambil mengusap wajahku. Aku hanya tersenyum simpul. Tak menjawab. Tak merasa perlu menjawab.

Continue reading Di Balik Senja Hari Ini

Kecupan di Sela Angin

Aku memejamkan mataku ketika sinar matahari yang hangat menerpa wajahku. Membiarkan sinarnya membelai wajahku. Di sini, di tempat ini matahari selalu datang terlambat. Pagi selalu pucat. Tapi menjelang senja, matahari selalu datang berkunjung. Aku duduk sendiri di padang terbuka ini, bercanda dengan matahari hingga lembayung senja menggantikannya.

Continue reading Kecupan di Sela Angin