Tag Archives: Pembelajaran

Rasa Lasa

Pada suatu ketika, kata-kata memiliki makna. Dibaliknya selalu bersembunyi sebilah pisau tajam yang siap melukaiku. Pada suatu ketika, tubuh ini penuh dengan luka dari setiap kata yang terucap. Luka di atas luka. Darah di atas darah. Adalah sesuatu yang memaksaku untuk merasa ‘hidup’. Sakit adalah pertanda bahwa aku masih hidup dan memiliki rasa. Maka aku bersujud dan bersyukur setiap kali aku merasakan sakit.

Continue reading Rasa Lasa

Advertisements

Kali Kesekian

Sudah berapa lama kita berhenti bertukar kata-kata manis? Entah. Terlalu lama hingga aku hilang hitungan. Setiap kata memiliki pedang yang tersembunyi. Terhunus dan siap melukai, bahkan di balik kata yang paling manis sekali pun. Setiap kata yang terlontar di antara kita selalu mengandung racun. Jika pun tak beracun, selalu ada kepahitan di dalamnya. Cinta itu racun. Maka ketika manisnya memudar, yang tersisa hanyalah racun. Getir yang merasuk hingga ke tulang sumsum kita.

Continue reading Kali Kesekian

Perkara Cinta

Mecintaimu adalah berdansa dengan rasa sakit. Memahami apa makna perih dan keterbatasan. Menikmati darah yang mengucur dari luka yang tak kunjung kering. Menyesap rindu yang membuncah, terpendam dan kadang tak berjawab. Meresapi kesepian dan kesendirian ketika senja tiba dan orang-orang saling bergandengan tangan.

Continue reading Perkara Cinta

Konspirasi Semesta

Adalah sebuah anugerah ketika aku bisa mematikan beberapa rasa yang tidak perlu dimunculkan pada saat-saat tertentu; atau bisa tertawa ketika mengatakan hal-hal yang sebelumnya membuatku marah. Pada saat itu lah aku merasa berdaya dan in control, tak dikuasai oleh emosi dan dengan ringan meluncurkan kalimat-kalimat yang sebelumnya dikeluarkan penuh api. Ada sebersit rasa puas ketika aku berhasil melakukan semua itu, karena itu artinya aku telah berhasil memenangkan perang dengan diri sendiri. Aku tidak lagi membiarkan emosi mengendalikanku. Ada sebersit ketenangan ketika aku tahu bahwa semesta tidak tidur dan [ternyata] telah mulai bekerja. Aku cukup duduk manis di deretan kursi penonton untuk menikmati pertunjukan yang baru saja dimulai. Tak perlu repot-repot melacurkan diri menjadi sutradara, biarkan semesta berkonspirasi untuk mempersembahkan sebuah pertunjukan sebagai hadiah atas kemenangan pertempuran batinku.

Continue reading Konspirasi Semesta