Tag Archives: #NarelDanRajani

[Soulmate] Vuslat

Ravindra tiba di kedai kopi itu dengan nafas tersengal-sengal. Rajani langsung menyodorkan gelas minumannya, “Nih, minum dulu. Nanti aku pesan lagi.” ujarnya. Ravindra segera menyambar es teh manis itu tanpa basa-basi. Setelah berhasil menenangkan diri, Ravindra mengeluarkan sebungkus rokok lalu menyalakan sebatang. “Ada apa sih, Ni? Suaramu di telepon tadi terdengar panik. Aku jadi ikut panik, tau!” dengus laki-laki itu dengan nada kesal. Rajani tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya mengeluarkan lima buah amplop merah dari tas punggungnya dan meletakkannya di atas meja.

Continue reading [Soulmate] Vuslat

[Soulmate] Pesan Terakhir

Laki-laki dengan jaket berhoodie itu merogoh kantung jaketnya untuk mengambil telepon genggamnya yang bergetar. Ada sebuah pesan baru yang masuk. Dibukanya kotak masuk dan dibacanya pesan baru itu.

Sudah berapa?

Laki-laki itu menekan tombol ‘reply’ lalu mulai mengetik: Empat. Sesuai jadwal. Setelah itu dia menekan tombol ‘send’ kemudian menunggu sesaat. Tak lama kemudian sebuah pesan balasan masuk.

Satu yang terakhir. Setelah itu I’ll take it from there. Thanks, bro.

Continue reading [Soulmate] Pesan Terakhir

[Soulmate] Amore Mia

Rajani terpaku di ambang pintu ruangannya. Sebuah amplop merah tergeletak di atas meja kerjanya. Ini sudah amplop merah keempat dalam satu minggu ini. Katrina menemukannya diselipkan di dalam kotak surat yang bertengger di pintu depan studio. Sama seperti amplop merah pertama, amplop merah kedua juga berisi kartu yang bertuliskan:

Rajani,
Apa kabarmu, amore mia?

Continue reading [Soulmate] Amore Mia

[Soulmate] Secret Admirer

Sore itu Rajani selesai bekerja agak cepat. Perempuan itu membereskan alat-alat fotografinya dan menguncinya di dalam lemari besi di ruangannya. Ketika sedang mengunci pintu ruangannya Rajani melihat sekelebat bayangan seorang laki-laki dengan jaket berhoodie melintas meninggalkan meja resepsionis. Dahinya berkerut sedikit. Sosok itu sepertinya familiar sekali tapi dia tak bisa mengingat siapa orangnya. Matanya masih berusaha mengikuti sosok yang berlalu itu sambil melangkah menuju meja resepsionis. “Siapa itu tadi, Kat?” tanyanya kepada Katrina, resepsionis yang ada di belakang meja. “Oh, aku tidak sempat tanya namanya kak. Tapi dia tadi datang hanya untuk menitipkan ini untuk kakak…” ujar Katrina sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna merah. “Rajani” – begitu tertulis di bagian depan amplop tersebut. Rajani menerima amplop itu dari tangan Katrina dengan penuh rasa heran. “Terima kasih ya, Kat…” ujarnya yang disambut anggukan disertai senyum dari Katrina.

Continue reading [Soulmate] Secret Admirer