Percakapan Dua Jiwa

Malam itu cerah tak berawan. Langit berhias bulan purnama dan angin berhembus perlahan. Kami duduk di bawah langit malam sambil memandang hamparan lampu kota yang membentang.

Aku: Jadi bagaimana?

Dia: Apanya?

Aku: Keputusanmu…

Dia: Entah…

Dia menyalakan rokoknya, lalu kemudian menghembuskan asap yang tipis ke udara. AKu merogoh saku celanaku, mencari pemantik untuk kemudian juga menyalakan rokokku.

Aku: Kamu harus periksa. Segera.

Dia: Buat apa? Semua orang toh akan mati nantinya.

Aku: Tapi jika bisa ditangani dulu, tak ada salahnya ‘kan berusaha?

Dia: Malas…

Aku menoleh. Melihat dia yang duduk di sampingku sambil merokok. Bergaya seolah tak peduli dengan sekelilingnya. “Laki-laki egois!” pikirku. Tapi sejujurnya aku tidak tahu, apakah dia sebenarnya egois, penakut, pengecut atau putus asa.

Aku: Kamu takut?

Dia: Bukan takut, aku pasrah.

Aku: Pasrah tanpa usaha?

Dia: Aku minum obat kok!

Aku: Obat yang kamu selalu lupa untuk bawa?

Dia: Tapi ‘kan ada obatnya…

Aku: Kalau terus-terusan lupa, apa gunanya?

Dia: Sesekali saja lupa…

Aku: Sesekali bagaimana? Terlalu sering kamu lupa!

Dia: Sudah ah! Bahas yang lain saja… Jangan terlalu dikhawatirkan. Aku baik-baik saja…

Lalu lagi-lagi kami larut dalam diam. Entah apa yang dipikirkannya. Aku hanya tahu isi kepalaku sendiri. Dia lalu terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri sambil mempermainkan asap rokok di mulutnya. Dia tidak pernah tahu bahwa sejak kejadian itu, aku tak pernah bisa tidur nyenyak. Bermalam-malam aku terjaga memikirkannya, hingga tanpa sadar airmata menetes di luar kemauanku. Aku yang sudah terlalu sering kehilangan, rasanya tak suka memikirkan konsekuensi yang dihadapinya. Tapi dia yang masih muda itu, terlalu egois untuk memikirkan perasaanku dan perasaan orang-orang di sekitarnya. Bukan aku menantang maut, tapi jika kita bisa mengusahakan yang terbaik sebelum terjadi yang terburuk, mengapa tidak? Dia merasa dirinya bersikap pasrah, tapi menurutku dia bersikap egois. Dan sialnya, tak satupun kata-kataku yang bisa mengubah pikirannya untuk saat ini. Aku hilang akal… Tak tahu lagi harus bagaimana bicara dengannya…

Dia: Pulang?

TIba-tiba dia mengejutkan aku yang sedang bermain dengan pikiranku sendiri.

Aku: Sekarang?

Dia: Iya… Belum mau?

Aku: Nanti dulu… Fajar belum tiba…

Dia pun menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku? Diam-diam menghapus air mataku…

 

Selinting

Kirana memperhatikan jemari trampil Elang yang bermain dengan lincah. Dia selalu kagum melihat betapa cepat kerja jemari tersebut dan hasilnya begitu rapi.  Sejurus kemudian selinting ganja telah siap untuk dihisap.

“Nih…” Elang menyodorkan lintingan itu kepada Kirana.

“Kamu dong yang bakar…” ujar Kirana. Elang menarik kembali tangannya, membakar lintingan itu, mengisapnya dua kali, baru kemudian menyodorkannya kembali kepada Kirana.  Perempuan itu menyambut, mengisapnya dalam-dalam sebelum mengembalikan lintingan itu kepada Elang. Keduanya duduk bersandar pada dinding di atap gedung tinggi sambil memandangi senja yang turun sambil berbagi hisapan.

“Kenapa ganja dilarang ya?” Kirana memecah kesunyian.

“Karena pemerintah terlalu paranoid…” sahut Elang dengan mata terpejam.

“Padahal kita tahu, di Aceh tanaman ini dipakai jadi bumbu masak. Sudah berpuluh tahun pula…” ujar Kirana lagi.

“Yaaa…. Pemerintah terlalu paranoid…. Dan bodoh. Itu saja.” Jawab Elang lagi.

“Kamu pernah merasa kecanduan ganja nggak sih?” tanya Kirana tiba-tiba.

Elang membuka matanya dan menoleh, “Nggak pernah… Aku rasa yang ngaku-ngaku kecanduan ganja itu mengada-ada sih…” jawabnya. “Kamu sendiri, kenapa suka?” tanya Elang.

“Ah, sesekali aja kok. Kalau lagi kepengen…” Kirana berkilah. “Yeah well… sama aja ‘kan? Artinya kamu suka, meskipun nggak doyan… Hehehe…” goda Elang sambil meninju bahu Kirana.

“Panjang ceritanya….” Ujar Kirana sambil menyalakan rokoknya.

“Kamu nggak pernah cerita sama aku lho… soal yang satu ini.” Elang mencoba mengorek. Kirana menoleh kepada Elang. Bibirnya sedikit terbuka seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi ragu… lalu perempuan itu mengalihkan pandangannya ke langit…

“Aku dulu pernah insomnia berat karena post traumatic stress disorder. Nggak bisa tidur, nggak mau makan. Dokter kasih aku valium, tapi malah aku tenggak sekaligus sampai nyaris mati…” Kirana bercerita dengan pandangan menerawang ke langit senja yang mulai bersemu jingga keunguan. Elang tertegun.

Tiga tahun mereka berteman baik. Elang selalu merasa dia tahu banyak tentang Kirana, tapi senja itu dia baru sadar… ternyata banyak yang tak diketahuinya tentang perempuan itu. Masa lalunya. Pengalaman pahitnya. Perjuangannya. Banyak hal tentangnya…

“Aku punya masalah dengan suicide tendency dan self-harming tendency, El…” kata-kata Kirana tiba-tiba mengembalikan Elang ke realita. Ke atap gedung di mana mereka sedang duduk bersama.

“Kamu kok nggak pernah cerita sama aku soal itu, Ra?” Elang bertanya, “Apa aku nggak bisa dipercaya? Atau kamu memang belum mau cerita?” lanjutnya.

Kirana menghela nafas, “Bukan gitu, El… Aku orangnya nggak gampang curhat. Dan nggak semua orang suka dijadikan tempat curhat…” jelasnya, “Kamu… sibuk dengan duniamu sendiri. Kamu punya masalah sendiri dan kamu sepertinya sudah kebanyakan perkara yang ganggu pikiranmu. Aku nggak enak aja kalau mau curhat.” Elang tertegun.

“Kok gitu sih? Padahal aku banyak cerita sama kamu, Ra. Seharusnya ‘kan kamu nggak usah disuruh juga cerita aja sama aku dong!” Elang menukas dengan nada suara tidak rela.

“Iya, tapi aku selalu tanya sama kamu…. Setiap kali aku lihat mukamu kusut, aku pasti tanya – ada apa – atau – kamu kenapa – Kamu nggak pernah tanya aku, El…” Jawaban Kirana sungguh di luar dugaan. Elang terdiam. Mencoba mengingat-ingat. Berpikir keras mencoba mengingat semuanya.

“Tiga tahun, El… nggak sekali pun kamu pernah bertanya serius – ada apa dengan aku – semua pertanyaanmu yang model begitu selalu dalam konteks bercanda. Gimana aku mau curhat?” Elang hanya diam. “Betul juga….” Batinnya. “Aku pernah kok, nyoba untuk cerita sama kamu, tapi tanggapan kamu biasa aja. Malahan cenderung bercanda. Kamu bilang aku sok sentimental lah… lebay lah… lagi manja lah…” Kirana meneruskan penghakimannya terhadap Elang dan membuat lelaki itu kehilangan kata-kata. “Maaf ya, Ra…” Elang berkata pelan. Kirana mengangkat bahu, menghela nafas, lalu meraih lintingan ganja dari tangan Elang.

“Sebenarnya, kenapa kamu nggak pernah tanya tentang aku, El?” tiba-tiba Kirana bertanya setelah mengembalikan lintingan itu kepada Elang. Elang tersedak asap ganjanya sendiri. “Kamu kelihatannya baik-baik aja, Ra. Kamu aktif, sibuk. Kamu selalu bantu orang. Sama sekali nggak terpikir kalau kamu punya masalah berat.” Jawab Elang jujur. Kirana tersenyum kecil. “Kamu nggak pernah berpikir bahwa kesibukanku bantu orang itu mungkin aja datang dari latar belakang kesamaan pengalaman pribadi dengan orang tersebut?” tanyanya lagi. “Hmmm… sempat kepikir sih, tapi aku kira kamu memang suka aja ngurusin masalah orang. Hehehe…” Elang menjawab sambil mencoba mencairkan suasana. “Sialan kamu! Kamu mau bilang aku kepo??” Kirana meninju bahu lelaki itu sambil tertawa kecil.

“Tapi… apa hubungannya antara masa lalu kamu dengan ganja? Jangan-jangan ganja kamu jadikan pelarian ya, Ra?” Elang bertanya, sedikit menuduh. Kirana mendengus, “Hmph! Nggak lah… Salah satu temanku yang nolong aku waktu hampir OD valium yang nyaranin. Dia bilang, kalau urusannya cuma pengen bisa tidur enak dan makan enak, lebih baik aku ngisep selinting aja. Jangan menggantungkan diri sama anti-depressant atau obat tidur. Takutnya malah kecanduan obat.” Jelas Kirana. “Dan karena aku punya kecenderungan untuk bunuh diri atau melukai diri, punya sebotol valium atau segepok anti-depressant di tangan bukan hal yang bijak. Dan kejadiannya memang begitu ‘kan? Begitu suicide tendency-ku kambuh, yang pertama aku lakukan waktu itu ya nenggak isi botol valium itu.” Lanjut Kirana. Elang mendengarkan tanpa berkomentar. “Sehabis nolongin aku, temenku tu ngasih selinting buat aku simpan dan dipakai kalau perlu. Jadi, selinting ganja yang dikasih temanku itu akhirnya menyelamatkan nyawaku…” Kata Kirana lagi.

“Sekarang, kalau aku merasa depresiku mulai kambuh, aku minta selinting sama kamu. Cukup selinting aja, dan aku akan jadi lebih tenang.” Ujar Kirana. Perempuan itu memang beberapa kali menanyakan kepada Elang apakah dia punya “kuncian”, begitu istilah yang dipakainya. Biasanya Elang selalu punya. Dan biasanya pula mereka kemudian akan berbagi lintingan itu. Tapi Elang tidak pernah bertanya lebih jauh. Tidak pernah curiga dan tidak pernah merasa perlu untuk mempertanyakan.

“Jadi… mulai sekarang kamu sudah tahu, kalau aku tanya apa kamu punya kuncian, itu tandanya aku sedang mulai memasuki tahap awal depresi. Tapi cuma kalau aku yang minta lho, El… Kalau aku ditawari dan mau, itu belum tentu karena aku depresi. Itu sih karena aku juga lagi kepengen aja. Hehehe…” Kirana berkata sambil tertawa kecil. Elang ikut tertawa.

“Ra, maaf ya kalau aku selama ini nggak peka…” ujar Elang.

“Ah… nggak apa-apa, El… kamu cowok, mana bisa peka sama hal-hal kayak gitu juga. Seharusnya aku juga nggak berharap macem-macem sih… Sorry ya, aku tadi ngomel-ngomel gitu…” jawab Kirana tak enak hati.

“Nggak apa, Ra… aku jadi tahu yang sebenarnya. Selama ini aku merasa, aku kenal kamu. Tahu banyak tentang kamu… tapi ternyata hal yang paling penting dalam diri kamu malah yang aku nggak tahu…” ujar Elang sedikit sedih.

“Hal penting apa?” tanya Kirana.

“Beratnya beban trauma kamu, Ra…” jawab Elang

“Kalau kamu tahu sejak dulu, memangnya apa yang akan kamu lakukan? Hanya jadi pendengar aja ‘kan? Belum terlambat kok, El…” Kirana tersenyum.

“Yaaa…. Setidaknya ‘kan aku bisa belain kamu, kalau kamu lagi curhat…” ujar Elang lagi.

“Yang perlu dibela itu siapa…?” Kirana menjawab. Elang tertegun. “Aku cuma perlu didengerin tanpa dihakimi kok, El… nggak perlu dibela…”

Elang mengacak rambut Kirana sambil tersenyum, “Selinting lagi ya? Berdua…” ujarnya sambil mengeluarkan peralatannya. Kirana tertawa.

Kamu Dalam Kenanganku, Lan….

“Rat, gua tau kita nggak terlalu deket. Tapi gua nggak tau harus minta tolong sama siapa lagi. Gua nggak tau siapa-siapa lagi di KL selain lu. Lu mau kan bantuin gua?”

Aku ingat chatting kita hari itu di YM. Kamu bilang harus operasi jantung dan kamu memilih Malaysia. Lalu yang aku ingat berikutnya adalah aku sibuk mencarikan apartemen untukmu. Tiga minggu kemudian kamu tiba bersama 2 orang teman dan ibumu. Lalu kita pergi bersama, makan nasi ayam Hainan, ngopi di DOME KLCC, jalan-jalan ke Petaling Street. Setelah lewat seminggu, kamu memutuskan kembali dan batal operasi karena masalah manajemen di rumah sakit itu.

“Rat, boleh nggak Nining nginep di tempat gua? Gua takut malem-malem gua kenapa-kenapa dan cuma sendirian.”

Kamu bertanya padaku ketika sedang didorong keluar dengan kursi roda dari area Global Village di Mexico. Aku mengangguk. Lalu aku dan Nining sibuk menertawakanmu, “Ah, lu dandanan sih rocker abis. Tapi pake oksigen sama kursi roda. Anti klimaks banget deh!” Kamu ikut tertawa. Lalu malam itu aku biarkan Nining, teman sekamarku, menginap di kamar hotelmu. Esoknya kamu pulang ke Jakarta. Hanya dua hari kita bersama di Mexico. Kamu tidak kuat dengan tipisnya oksigen di tempat konferensi itu dan luasnya area yang harus dilewati dengan berjalan kaki setiap harinya.

“Rat, makasih ya, udah rekomendasiin gua jadi juri lomba foto! Seneng banget gua! Gila!”

Waktu itu aku memang hanya terpikir kamu, Lan. Kamu berkutat dengan komunitas dan kamu jago fotografi. Jadi, ketika aku tidak bisa jadi juri, namamu lah yang pertama kali terlintas dalam pikiranku.

“Rat, menurut lu gua bagusnya gimana? Lembaga gua diserang habis-habisan di milis. Tau lah lu, gara-gara training kemarin itu…

Lalu kita sibuk saling bertukar solusi terbaik untuk situasimu saat itu. Serangan yang kamu terima memang bertubi-tubi. Cacian dan makian dalam kemasan yang seolah sebuah kritik konstruktif terus kamu terima. Aku tahu kamu kalut. Kamu katakan itu kepadaku. Bebanmu besar sebagai pemimpin dan kamu harus tetap bersikap tenang. Padahal dalam hati kamu sudah tidak tahan membaca semua cercaan yang ditujukan kepada lembagamu. Aku senang akhirnya masalah itu terselesaikan dengan baik. Persis seperti yang kita prediksi bersama, Lan.

“Rat, gua nggak jadi operasi jantung.Dokter-dokter di sini bilang kemungkinannya cuma 30:70. Gua bisa meninggal di meja operasi. Gua mau pulang aja. Terapi alternatif.”

Begitu lah kabar yang aku terima ketika kamu di Australia. Aku hanya bisa mendukung keputusanmu, Lan. Senangkan dan isi hidupmu dengan hal-hal yang kamu suka. Lakukan apa yang kamu suka. Hidup dan mati bukan kita yang menentukan.

“Rat, gua pengen ngobrol sama lu, ada waktu nggak?”

Lalu sejurus kemudian pesan-pesanmu mengalir lewat BBM. Kamu hampir menikah saat itu. Ada sedikit bimbang. Aku hanya bisa mengembalikan semua keputusan ke tanganmu. Hanya kamu yang tahu apa yang terbaik untuk dirimu, Lan. Beberapa bulan kemudian kamu mengirim undangan pernikahanmu. Aku memang tak bisa datang, tapi kamu tahu aku mendukungmu. Selalu, Lan…

“Rat, gua mau motret lu. Kapan lu bisa?”

Sepertinya dua minggu kemudian kita janjian di PIM. Kamu potret aku dan sahabatku. Ketika kita makan, kamu menghela nafas berat sambil mengeluarkan sekantong obat-obatan. “Lu nggak apa-apa?” aku bertanya. “Capek gua, Rat. Capek minum obat sebanyak ini” begitu jawabmu. Tapi kamu tetap meminum obat-obatmu.

“Rat, pertemanan kita ini aneh ya? Kita nggak terlalu deket. Nggak akrab-akrab banget. Nggak pernah jalan atau nongkrong bareng, tapi kita kayaknya selalu saling mencari kalo ada apa-apa ya?”

Begitu katamu kepadaku. Aku hanya tertawa. Teman itu seharusnya memang seperti bintang. Tidak perlu selalu terlihat, tapi kita tahu mereka ada di sana. Itu prinsipku, Lan dan kamu tahu itu.

“Rat, gua mau bikin acara talk show tentang perempuan dan HIV. Gua mau lu jadi narasumbernya ya?”

Tentu saja aku setuju. Beberapa minggu setelah acara itu selesai, kamu bilang padaku bahwa kamu akan membuat acara-acara serupa itu tahun berikutnya dan kamu ingin aku terlibat. Tapi itu adalah acara terakhir kita. Tahun sudah berganti, rencana belum terlaksana tapi kamu sudah pergi, Lan. 

Ya, Lan… pertemanan kita memang aneh. Tapi tetap saja sebuah pertemanan. Tidak ada saling ketergantungan, tapi kita sama-sama tahu bahwa kita bisa saling mengandalkan. Bukankah lebih indah begitu?

Pertemanan kita berkembang dari “gua tau kita nggak terlalu deket” hingga menjadi “gua mau lu jadi narasumbernya”. 

Kamu ada dalam kenanganku, Lan. Selalu. Aku sudah banyak kehilangan teman, tapi kehilangan kamu adalah yang terberat yang aku rasakan sampai saat ini. Terima kasih karena kamu sudah meminta bantuanku ketika kamu akan pergi ke KL. Saat itu kamu membuka pintu pertemanan denganku. Aku bangga karena kamu adalah seorang pejuang, Lan. Kamu berjuang hingga hela nafas terakhirmu. 

Selamat jalan, Wulan… Selamat menjadi penghuni surga bersama teman-teman kita yang lain. Aku pasti akan rindu padamu. Rindu tulisan-tulisanmu. Rindu hasil-hasil jepretan kameramu.

 

Jakarta, 11 Maret 2013 – malam keempat setelah kepergianmu, Lan. Maafkan jika aku masih berduka…             

Wulan, Nining & aku di Mexico

 

A mind's sanctuary, a soul's hideaway

Project: Road Trip for Life

Bukan perjalanan liburan!

EpiestGee

Jejak

Life Journey

/story of my life/travel/poetry/photography/stories

paroleparole

Ideas coming to me in answer to my pleas - Flowin' Prose, Beastie Boys

RINTIHAN PAGI BISIKAN SENJA

pada segalamu, cinta tak kutakar lagi.

AboeRedBLaCk

AboeRedBLaCk

dudeinheels

Complicated Mind in Words

Penikmat Dosa

Maafkan hamba wahai Tuan Penyair, kuluapkan beberapa dosa kecil di dalam syair ini ...

RamssesKids

ketika kesendirian dan kematian adalah teman yang lebih baik

cavelier

cave for (a) liar, little fact about me...ini hanya tentang diriku

Rose of Durga

The Real Life is The Afterlife

The Two Seasons

Season that always change...

aksararaska

sesuatu yang tertuang dalam huruf, kata, kalimat dan menjadi berbagai makna

Ratri Pearman

a.k.a Suksma Ratri

%d bloggers like this: