Category Archives: Silent Madness

Genangan Waktu

Hujan biasanya menumbuhkan rindu. Memicu pikiran dan kenangan tentangmu. Tapi hujan petang ini berbeda. Meski derasnya masih sama, kepalaku tak penuh oleh abstraksimu. Meski suara rinainya yang jatuh masih menenangkanku, pikiranku tak lagi melayang padamu.

Continue reading Genangan Waktu

Advertisements

Jangan Jenuh Merindu

Ada hening di antara kamu dan aku. Senyap yang berkarat karena entah sudah berapa lama diam tak bergerak dalam ruang kedap suara itu. Kita berjarak. Bukan karena jarak, melainkan karena senyap. Lalu satu per satu helai rindu mulai berguguran. Ada yang berganti dan ada yang mengering lalu mati begitu saja. Aku menghela nafas panjang di sela letih yang mendera. Ah…. mungkin kamu sudah jenuh merindu.

Continue reading Jangan Jenuh Merindu

Di Antara Heningnya Waktu

Ada yang pernah¬†berkata, “Suara¬†terindah adalah kesenyapan”. Dalam hening yang jatuh di antara detik-detik yang berguguran, aku menanti. Hampa adalah setiap kata yang datang dalam kemayaan tanpa realita. Mungkin karena senyap adalah suara terindah, maka kamu terus menyapaku dalam keheningan yang menyelinap di antara butiran waktu. Lalu aku memandang pigura waktu yang berhias rindu. Mungkin satu senja nanti semuanya akan melebur menjadi satu kenangan yang dibawa oleh lembayung. Mungkin akan tiba saatnya di mana aku bisa rebah di bahumu sambil menatap mentari yang pulang ke peraduannya.

Continue reading Di Antara Heningnya Waktu

Senyap

Semesta hening. Hanya rongga kepalaku yang masih terus bising. Sekelilingku begitu senyap. Hanya rongga jiwaku yang bergejolak, mengaduk berbagai macam rasa yang melebur jadi satu. Aku mengedipkan mataku beberapa kali di depan cermin, sekedar untuk memeriksa apakah ada yang akan terjatuh dari situ. Tak ada. Padahal rongga jiwaku sudah basah sejak lama oleh tangis yang merembes lewat celah dan retakan yang ada. Tangis tanpa suara. Tangis tanpa air mata. Tangis yang tak pernah aku tahu apa penyebabnya.

Continue reading Senyap