Category Archives: Rage

Kali Kesekian

Sudah berapa lama kita berhenti bertukar kata-kata manis? Entah. Terlalu lama hingga aku hilang hitungan. Setiap kata memiliki pedang yang tersembunyi. Terhunus dan siap melukai, bahkan di balik kata yang paling manis sekali pun. Setiap kata yang terlontar di antara kita selalu mengandung racun. Jika pun tak beracun, selalu ada kepahitan di dalamnya. Cinta itu racun. Maka ketika manisnya memudar, yang tersisa hanyalah racun. Getir yang merasuk hingga ke tulang sumsum kita.

Continue reading Kali Kesekian

Advertisements

Senyap Bertabur Kata

Kamu menawarkan keheningan panjang yang tak tahu adat. Tanpa basa-basi dan penuh dengan dusta serta alasan belaka. Setiap jelajah kalimat yang kamu luncurkan adalah pembenaran atas kesalahan yang kamu lakukan. Setiap kali jemari tertuding, kamu akan menuding balik dengan alasan klasik, “It’s a two way street…” – kamu ingin tahu apa yang aku pikirkan ketika kamu mengatakan kalimat itu? “Peduli setan! Kamu menyakitiku!”

Continue reading Senyap Bertabur Kata

Vindicta

Ada awan hitam yang bergulung di atas kepalaku. Pening. Ada petir dan halilintar yang saling menyambar dari gulungan awan hitam di atas kepalaku. Setiap sambarannya adalah luka kejutan listrik yang menyengat hingga otak tersendat sesaat dan mulut tak sanggup berkata-kata. Bisu seketika untuk beberapa detik. Setiap gelegar adalah tamparan yang membuat mataku berkunang-kunang, hilang keseimbangan sejenak. Limbung dan telingaku pekak oleh dengungnya.

Continue reading Vindicta

Menepis Abstaksimu [Dengannya]

Pikiran-pikiran itu hinggap di rongga kepalaku seperti burung-burung gagak hitam yang tertarik pada benda-benda berkilau. Memenuhi setiap sudut dan celah yang kosong. Ada abstraksimu di sana, namun kamu tak sendiri. Aku? Sedikit merasa terganggu, tapi mulutku terbelenggu. Lalu Invidentia merangsek, mendekat dan memelukku erat…

Continue reading Menepis Abstaksimu [Dengannya]