Category Archives: Madness

Satu Rentang Lengan dan Segenggam Jemari

Ada satu hal yang aku rindukan setengah mati. Satu rentang lenganmu. Ya. Aku merindu satu rentang lenganmu yang melingkari bahuku erat. Satu rentang yang mampu menghentikan lajunya waktu untuk sesaat. Ke manakah harus aku cari satu rentang lenganmu itu sekarang?

Continue reading Satu Rentang Lengan dan Segenggam Jemari

Advertisements

Mencari Rembulan

Perempuan itu menatapku tajam. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sudah ada di depanku. Duduk mencakung dengan wajah masam tanpa senyum. Aku membalas tatapannya lalu berkata, “Berhentilah membuntutiku!” Perempuan itu mencebik sedikit, “Aku tidak membuntutimu!” ujarnya sambil membuang pandangan ke arah lain. Aku tertawa keras-keras, “Sungguh aku ingin mempercayai kata-katamu, tapi sayang sekali… Tidak bisa! Kamu jelas membuntutiku. Untuk apa?” tanyaku tajam.

Continue reading Mencari Rembulan

Jangan Tanyakan

Udara sarat menyuarakan kebisuan di tengah badai. Aku setengah tercekik menanti sapa. Sudah berapa lama? Entah lah. Aku sepertinya telah kehilangan hitungan. Lalu aku membiasakan diri bermain dalam senyap. Bergandeng tangan dengan sepi yang senantiasa memelukku mesra. Lebih mesra dan lebih hangat dari pelukmu yang dulu…

Continue reading Jangan Tanyakan

Lelaki Angin dan Ratu Cahaya [Part 7: Kontemplasi]

Pada suatu senja yang sepi…

Sendiri adalah saat-saat di mana pikiran berlarian bebas di sepanjang rongga kepala laki-laki itu. Berbagai kenangan dan khayalan bercampur aduk menjadi satu hingga kadang dia tak tahu lagi mana kenangan, mana khayalan. Ambigu. Mungkin karena hidupnya abu-abu. Rajni adalah satu-satunya realita baginya. Ratu Cahaya yang akan selalu ada ketika dirinya kembali usai berkelana. Tapi justru karena Rajni adalah realita, perempuan itu tak tersentuh. Tak bisa dan tak boleh disentuh. Bayu hanya bisa menyentuhnya dalam khayalan, di mana Rajni adalah Ratu Cahaya yang maya. Rajni mau tak mau akan selalu terpisah dari dunianya.

Continue reading Lelaki Angin dan Ratu Cahaya [Part 7: Kontemplasi]