Category Archives: IMADIT

Lepaskan Genggamanmu, Invidentia!

Malam ini langit cerah dan bersih. Bintang bertebaran, udara sejuk dan angin berhembus pelan. Kita terbaring di atas rumput, menatap langit yang bertabur bintang. Tak ada suara apapun selain desir angin yang menerpa dedaunan dan detak jantungku. “Damai itu sederhana ya? Cukup dengan begini saja rasanya sudah damai…” kamu berujar memecah sunyi. Aku menoleh, pandanganmu lurus ke langit tapi bibirmu menyungging senyum. Aku tertular. Ikut tersenyum.

Continue reading Lepaskan Genggamanmu, Invidentia!

Advertisements

Seguir su Ira…

Malam baru saja beranjak turun. Hujan di luar berderu seolah semesta sedang marah. Aku di sini ditemani Ira, bidadari pemarahku yang cantik. Jelita tapi temperamental. Ira bisa saja diam dan duduk manis sambil melipat sayap putihnya, namun jika dia murka, percikan bunga api akan segera menjalar dan membuat sayapnya berapi. Dan dia suka memendam rasa. Meledak ketika semua sudah membuncah dan meluap. Sesungguhnya aku tak suka ditemani dia. Aku dan Ira adalah perpaduan yang berbahaya karena kami saling menyulut.

Continue reading Seguir su Ira…

Meresapi Jentaka

Ketika malam tiba, aku suka berjalan sendirian di bawah langit yang pekat. Tak perlu ada cahaya bulan atau pun bintang di sana, cukup aku dan langit malam saja. Sebenarnya ada kedamaian yang terasa ketika aku menikmati malam seperti itu, namun ada saja saatnya di mana jentaka datang dan memaksa untuk ikut berjalan bersama. Seperti malam ini…

Continue reading Meresapi Jentaka

Mengabaikan Invidentia

Bidadari bersayap api itu mulai mengintip dari balik dinding hatiku ketika malam mulai larut dan kabar seolah menguap bersama lembayung senja. Invidentia. Dia lah ratu penguasa┬árasa yang paling tak aku sukai. Cemburu. Malam ini aku bisa merasakan Invidentia tersenyum-senyum sendiri melihatku berusaha menepis pikiran-pikiran tak jelas yang mulai merangsek masuk. “Kenapa harus kamu lawan rasa itu?” katanya dengan suara menggoda. Aku tetap diam. Fokus kepada apa yang sedang aku kerjakan. “Ikuti saja…” bujuknya lagi sambil mendekat. “Mau aku bantu?” dia mengulurkan tangannya kepadaku.

Continue reading Mengabaikan Invidentia