Btari Durga

dark girl

Siapa sebenarnya Btari Durga? Kenapa aku menyukainya? Seperti halnya banyak tokoh pewayangan, Btari Durga memiliki beberapa versi yang berbeda. Banyak orang akan punya banyak versi tentang Btari Durga dan kisah-kisah di baliknya. Versi dewi kematian yang tertanam di ingatanku adalah versi yang diceritakan ayahku ketika aku masih berumur 8 tahun.

Menurut versi ayahku, Durga menitis kepada Roro Jonggrang itulah mengapa arcanya ada di candi Prambanan. Btari Durga sendiri pada awalnya bernama Dewi Uma, seorang dewi yang cantik jelita yang
sesungguhnya adalah putri hartawan dari negeri Merut yang dipersembahkan sebagai istri kepada Btara Guru.

Suatu hari Btara Guru serta Dewi Uma pergi pesiar dengan menaiki lembu Andini. Dalam tamasya terbang di angkasa, Sanghyang Guru timbul hasrat asmaranya dan ingin bersengama diatas punggung  Andini, namun Dewi Uma menampik permintaan ini untuk melindungi kehormatannya sebagai ratu dari para bidadari di kahyangan. Dia tidak ingin nama Btara Guru tercemar di kalangan dewa – dewi.

Penolakan Dewi Uma sebenarnya berakar kepada kesetiaannya kepada sang suami dan bertujuan untuk  melindungi kewibaan Btara Guru. Namun Btara Guru memaksa, maka Dewi Uma berkata bahwa hasrat suaminya itu melebihi hasrat seorang raksasa, seketika itu juga Btara Guru berubah wujud sehingga mempunyai taring dan kemudian diberi gelar Sanghyang Randuwanda. Btara Guru yang karena sangat geramnya, mengutuk Dewi Uma menjadi raksesi dan berganti nama menjadi Btari Durga.

Lantaran besarnya nafsu Sanghyang Randuwanda, hingga kamanya (sperma) meloncat jatuh ke dalam samudera di bawahnya, dan kemudian berubah menjadi bola api raksasa. Bola api tersebut makin lama makin besar dan membentuk sesosok raksasa lain. Oleh Sanghyang Guru, raksasa sakti tadi dinamakan Btara Kala. Bayi raksasa itu menyebabkan kericuhan di kahyangan hingga para Dewa tidak sanggup menghadapinya. Konon agar bisa tenang dan tidak berbuat onar, Btara Kala selalu meminta korban yaitu ontang-anting (anak tunggal), Pandawa Lima (lima anak lelaki dalam satu keluarga) dan kedhono-kedhini (anak kembar laki-laki dan perempuan). Itu pula kenapa dalam adat Jawa anak tunggal, lima anak lelaki dan kembar laki-perempuan harus diruwat agar tidak diambil oleh Btara Kala.

Btari Durga dititahkan menjadi istri Btara Kala. ia memperoleh pekerjaan merajai beberapa gandarwa, setan serta makhluk halus yang jahat yang lain. Sedang perkawinannya dengan Btara Kala, menurunkan Kala Yawana, Kala Durgangsa, Jaramaya, Ranumaya serta ada banyak lagi putra-putra yang lain. Bersama dengan Btara Kala, Durga menyebabkan berbagai kekacauan dan penderitaan yang memakan korban.

Ketika pecah perang Bharatayuda, Btari Durga sempat dimintai tolong oleh Dewi Kunti, untuk membantu membinasakan gandarwa Kalantaka dan Kalanjaya. Kedua gandarwa sakti itu meneror keselamatan Pandawa Lima, lantaran mereka akan menolong para Kurawa. Btari Durga bersedia memenuhi keinginan Kunti, dengan prasyarat ibu dari Pandawa Lima itu mesti menyerahkan Sadewa untuk dikorbankan. Dewi Kunti tak sanggup memenuhi keinginan Btari Durga itu. Tetapi pada akhirnya justru Sadewa yang mengembalikan Btari Durga menjadi bidadari cantik dengan cara diruwat. Sadewa mampu meruwat Btari Durga setelah raganya disusupi oleh Btara Guru (kejadian ini diceritakan dalam lakon Sudamala atau  Murwakala).

Ayahku sering berkata bahwa meskipun pada Wayang Purwa tokoh Btari Durga kerap dilukiskan jahat, bengis, serta menakutkan, sebagian sekte agama di India utara, memuja Durga sebagai dewi pelindung. Mereka meyakini Durga sebagai Dewi Penolong untuk orang-orang yang tengah terkena musibah, tersisih dan menanggung derita karena perlakuan yang tidak adil.

Kisah heroik Btari Durga yang paling populer adalah cerita tentang kesuksesannya  menaklukkan Mahisasura,  banteng raksasa yang sudah lama mengganggu kehidupan beberapa dewa. Btari Durga digambarkan sebagai dewi yang berubah bentuk karena  terhukum lantaran kesetiaannya dan keteguhan prinsipnya. Karakternya memanglah beralih berbarengan dengan bentuk fisiknya. Tetapi sesungguhnya, seperti tokoh epos Mahabharata lain, Durga tak hitam tapi tak pula putih. Ia garang, namun ia juga pelindung. Ia korban, namun ia juga bertahan. Bahkan pada akhir kehidupan ke-btari-annya, Durga dinaikkan derajatnya dari dewi kematian dan kekacauan menjadi dewi pelindung dan pengetahuan (ini lah mengapa Durga digambarkan memiliki banyak tangan).

Kisah adalah kisah, kita bebas menginterpretasikan dan mengambil moralnya – begitu yang ayahku sampaikan kepadaku ketika umurku masih 8 tahun.

“Durga itu sebenarnya tidak jahat, tapi kalau disenggol sedikit saja…. maka dengan kekuatannya dia bisa membuatmu menderita. Dia juga membalaskan duka-derita mereka yang diperlakukan tidak adil. Jadi, kekacauan dan kematian yang disebabkannya itu sebenarnya adalah pembalasan atas berbagai tindak kejahatan yang terjadi dan merupakan sebuah bentuk perlindungan bagi kaum tertentu.”

begitulah ayahku menjelaskan kepadaku waktu itu tentang kenapa Durga yang jelita bisa berubah seketika menjadi begitu jahat dan bengis.

Untuk aku, Btari Durga adalah simbol transformasi, simbol kesetiaan dan keteguhan prinsip. Dia mewakili korban yang mampu bertahan. Cantik dan mematikan, tapi sekaligus mampu melindungi mereka yang lemah. Btari Durga adalah simbol keadilan bagi orang-orang yang termarjinal. Dan meskipun di kisah lain dia digambarkan bengis dan jahat, aku lebih suka melihat Durga lebih jauh dan lebih dalam – tidak sekedar sebatas kulit luarnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

A mind's sanctuary, a soul's hideaway

Project: Road Trip for Life

Bukan perjalanan liburan!

EpiestGee

Jejak

Life Journey

/story of my life/travel/poetry/photography/stories

paroleparole

Love is power! Love is truth! Love is endless! Love is your forgiveness! Love is your sacrifice! Love is your faith! Love is your trust! Love is your hope! - Touch, Downset, Do We Speak a Dead Language?

RINTIHAN PAGI BISIKAN SENJA

pada segalamu, cinta tak kutakar lagi.

AboeRedBLaCk

AboeRedBLaCk

dudeinheels

Complicated Mind in Words

Penikmat Dosa

Maafkan hamba wahai Tuan Penyair, kuluapkan beberapa dosa kecil di dalam syair ini ...

RamssesKids

ketika kesendirian dan kematian adalah teman yang lebih baik

cavelier

cave for (a) liar, little fact about me...ini hanya tentang diriku

Rose of Durga

The Real Life is The Afterlife

The Two Seasons

Season that always change...

aksararaska

sesuatu yang tertuang dalam huruf, kata, kalimat dan menjadi berbagai makna

Ratri Pearman

a.k.a Suksma Ratri

%d bloggers like this: