All posts by Morbid Angel

I am a walking paradox. I lead a multiple-life as a corporate whore, an activist and a woman living with HIV. I love butterfly, not only because it is a delicately beautiful creature that is full of vulnerability; but mainly because it is a symbol of transformation and hidden power - a living proof that something rather ugly, disgusting and poisonous can actually be transformed into the most beautiful creature. On top of that, its delicate and rather vulnerable wings can cause a tsunami on the other side of the world, famously called as The Butterfly Effect.

Di Antara Senyap

Kita berdua berdiri di antara senyap. Saling memandang, tak bisa saling menggenggam. Saling menatap, tapi tak mampu saling memanggil. Senyap ini terlalu tebal. Sia-sia aku mencoba untuk merobeknya. Bukan senyap yang koyak, tapi malah hatiku sendiri yang robek, dan kamu tetap diam bergeming di seberang sana tanpa bisa aku gapai. Kamu menatapku. Aku masih bisa merasakan hangatnya detak jantungmu yang pernah dekat di dadaku. Tapi itu dulu…

Continue reading Di Antara Senyap

Advertisements

Jangan Jenuh Merindu

Ada hening di antara kamu dan aku. Senyap yang berkarat karena entah sudah berapa lama diam tak bergerak dalam ruang kedap suara itu. Kita berjarak. Bukan karena jarak, melainkan karena senyap. Lalu satu per satu helai rindu mulai berguguran. Ada yang berganti dan ada yang mengering lalu mati begitu saja. Aku menghela nafas panjang di sela letih yang mendera. Ah…. mungkin kamu sudah jenuh merindu.

Continue reading Jangan Jenuh Merindu

Di Antara Heningnya Waktu

Ada yang pernah berkata, “Suara terindah adalah kesenyapan”. Dalam hening yang jatuh di antara detik-detik yang berguguran, aku menanti. Hampa adalah setiap kata yang datang dalam kemayaan tanpa realita. Mungkin karena senyap adalah suara terindah, maka kamu terus menyapaku dalam keheningan yang menyelinap di antara butiran waktu. Lalu aku memandang pigura waktu yang berhias rindu. Mungkin satu senja nanti semuanya akan melebur menjadi satu kenangan yang dibawa oleh lembayung. Mungkin akan tiba saatnya di mana aku bisa rebah di bahumu sambil menatap mentari yang pulang ke peraduannya.

Continue reading Di Antara Heningnya Waktu