Di Antara Senyap

Kita berdua berdiri di antara senyap. Saling memandang, tak bisa saling menggenggam. Saling menatap, tapi tak mampu saling memanggil. Senyap ini terlalu tebal. Sia-sia aku mencoba untuk merobeknya. Bukan senyap yang koyak, tapi malah hatiku sendiri yang robek, dan kamu tetap diam bergeming di seberang sana tanpa bisa aku gapai. Kamu menatapku. Aku masih bisa merasakan hangatnya detak jantungmu yang pernah dekat di dadaku. Tapi itu dulu…

Kita berdiri di antara senyap. Mawar biru di tanganmu. Hati yang membiru di genggamanku. Tanganmu berdarah, tertusuk duri yang menyembul dari batang mawar biru itu. Jemariku berdarah, bukan terluka. Hanya teraliri dari tetesan yang jatuh dari sisa-sisa hatiku yang remuk. Lalu kita hanya bisa saling memandang dengan penuh rasa getir. Rindu. Beku. Sendu.

Aku sudah pernah mencoba merobek senyap di antara kita. Mungkin sekarang saatnya kamu mencoba untuk merobek senyap yang begitu betah berada di antara kita. Barangkali hatimu jauh lebih kuat, sehingga tak akan ikut terkoyak…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s