Genangan Waktu

Hujan biasanya menumbuhkan rindu. Memicu pikiran dan kenangan tentangmu. Tapi hujan petang ini berbeda. Meski derasnya masih sama, kepalaku tak penuh oleh abstraksimu. Meski suara rinainya yang jatuh masih menenangkanku, pikiranku tak lagi melayang padamu.

Hujan petang ini hanya meninggalkan genangan waktu. Melibas habis semua kenangan yang telah berlalu. Aku mencoba mencari rindu di sela-sela suara hujan. Tapi dia tak ada. Entah ke mana perginya, yang tersisa hanya genangan waktu. Tergolong gelisah di bawah rinai hujan.

Lalu aku berdiri dengan secangkir kopi di tangan. Tetes yang jatuh memenuhi genangan itu mulai menghilang. Hujan akan segera berhenti, tapi rindu masih entah terselip di mana. Apa mungkin dia tersesat, ketika berjalan dari hatimu menuju tempatku? Atau mungkin dia singgah di tempat lain, sehingga lupa jalan ke hatiku. Atau barangkali dia memang sudah tak lagi melakukan perjalanan di antara jiwa-jiwa kita. Entah…

Aku memandangi riak dalam genangan waktu di depanku. Pada masanya, hanya wajahmu yang tergambar jelas di sana. Pada suatu ketika, genangan itu penuh dengan helai rinduku untukmu. Pada suatu saat, hanya kamu yang aku cari di sela-sela setiap riaknya. Tapi masa itu telah lewat. Berlalu begitu saja seperti angin yang pergi sambil menderu. Sekarang yang tersisa hanya genangan waktu. Dan esok pagi dia pasti akan mengering. Hilang. Sama seperti rindu kita yang tersesat entah di mana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s