Di Antara Heningnya Waktu

Ada yang pernah berkata, “Suara terindah adalah kesenyapan”. Dalam hening yang jatuh di antara detik-detik yang berguguran, aku menanti. Hampa adalah setiap kata yang datang dalam kemayaan tanpa realita. Mungkin karena senyap adalah suara terindah, maka kamu terus menyapaku dalam keheningan yang menyelinap di antara butiran waktu. Lalu aku memandang pigura waktu yang berhias rindu. Mungkin satu senja nanti semuanya akan melebur menjadi satu kenangan yang dibawa oleh lembayung. Mungkin akan tiba saatnya di mana aku bisa rebah di bahumu sambil menatap mentari yang pulang ke peraduannya.

Di antara heningnya waktu aku menanti. Meski kakiku terus melangkah, tapi aku sesekali tetap menengok, mencoba melihat apakah abstraksimu akan muncul dan mengejar langkahku. Mungkin belum. Mungkin tidak sekarang. Mungkin tak akan pernah. Tapi aku toh tetap menanti dalam bisu, karena kamu pernah berjanji kamu tak akan ke mana-mana.

Kadang aku sulit untuk memahami isi kepalamu. Mungkin karena aku mencoba masuk ke dalamnya, lalu tersesat dalam labirin yang berliku. Mungkin tak seharusnya aku menerobos masuk ke dalam rongga kepalamu. Tapi bagaimana aku bisa belajar untuk paham jika aku hanya berdiri di tepian ingatanmu saja? Senyap darimu mungkin sebuah pesan tersendiri. Karena tak ada pesan adalah juga sebuah pesan. Lalu aku membiarkan semak belukar dalam rongga kepalamu itu menutup jalanku. Sebab tak juga kamu ijinkan aku untuk masuk.

Di antara heningnya waktu aku menanti…

Hening. Hampa. Sepi. Senyap….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s