Labirin dan Kesenyapan

Aku berjalan menelusuri sebuah hutan. Ah, ini bukan hutan sembarang hutan. Ini adalah rongga kepalamu. Kupu-kupu aneka warna beterbangan di antara pepohonan yang tumbuh tinggi hingga nyaris menutupi cahaya dari langit. Ada banyak semak yang harus aku lewati. Sebagian penuh dengan bunga-bunga liar, sebagian hanya dipenuhi dedaunan dan sebagian lagi kering berduri.

Hutan ini seperti labirin. Ke mana pun aku berjalan, aku selalu tersesat atau menemui jalan buntu. Ada saatnya aku hanya berputar-putar saja tanpa arah, lalu akhirnya kembali ke titik mula aku berjalan. Aku mencoba menerka arah yang akan membawaku keluar dari hutan ini, tapi aku tak pernah berhasil. Kadang aku seperti melihat tepian hutan sudah menanti di kejauhan, namun kemudian semuanya berubah seiring langkahku yang aku kira semakin mendekat. Rumpun bunga bisa hilang seketika, berganti semak belukar berduri. Tepi hutan hilang ditelan kabut. Aku kembali ada di tengah labirin. Kembali harus menentukan, apakah aku harus ke kanan, ke kiri, lurus terus atau sebaiknya kembali saja.

Hanya ada senyap di hutan ini. Kepak sayap kupu-kupu jadi terasa begitu kencang terdengar di telinga, karena sekelilingku begitu hening. Tak ada angin yang berhembus di sini. Hanya ada gelombang udara yang datang dari kepak sayap kupu-kupu peliharaanmu. Kadang aku berhenti sejenak, bukan untuk beristirahat, tapi untuk mencoba mendengarkan buah pikiranmu. Nihil. Entah di mana kamu sembunyikan suaramu. Entah di mana adanya buah pikiranmu itu. Yang aku tahu, hanya ada aku di tengah labirin ini bersama kesenyapan yang menggigit.

Aku masih terus berjalan menyusuri rongga kepalamu yang serupa labirin. Menyapa setiap pohon dan semak belukar agar mau memberiku sedikit tanda. Mencium setiap kelopak bunga yang aku temui sambil menghirup wanginya yang hanya tinggal untuk sesaat. Durimu menyakitiku. Racun di daunmu meresap hingga ke urat nadiku. Wangi bungamu memabukkanku. Aku seharusnya keluar dari hutan ini! Tapi aku tak juga menemukan jalannya. Aku masih saja tersesat dalam labirin dan kesenyapan ini. Entah hingga kapan. Satu hal yang aku tahu dengan pasti: kamu berdiri di atas sana, menikmati permainan ini. Mungkin kamu tersenyum-senyum sendiri melihat aku kebingungan mencari cahaya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s