Surat Buat Waktu

Sapardi Djoko Damono dalam salah satu puisinya pernah berkata tentangmu, hai Waktu…

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

Ya, katanya kamulah yang fana. Kami abadi. Tapi mungkin karena kefanaanmu, maka kamu tak henti berlari. Bukan. Sebenarnya bukan berlari. Kamu bergerak sesuka hatimu. Ada saatnya kamu terasa terhenti. Diam tak bergerak. Statis. Namun di kala lainnya, kamu melesat cepat seperti ingin berpacu dengan cahaya.

Aku menulis surat ini buatmu, Waktu. Sebab kamu selalu bergerak ketika aku ingin kamu diam. Dan kamu selalu diam ketika aku ingin kamu melesat. Kamu seolah ingin mengejek aku. Jarang sekali aku merasa kamu memihak padaku. Padahal aku hanya ingin sedikit ruang ketika sedang menikmati malam dengannya. Padahal aku hanya ingin sedikit rentang agar aku bisa menikmati senja yang turun di tepi pantai bersamanya. Tapi kamu selalu berlari cepat ketika dia dekatku.

Waktu, kamu melesat bagaikan peluru. Meretas angin dan kabut, mencurinya dariku dan membawanya pergi. Kamu menyembunyikannya di balik jubahmu, lalu kamu menyurutkan langkahmu. Pelan. Pelan…. dan kian pelan. Sampai akhirnya kamu nyaris berhenti. Kamu beristirahat dari pacuanmu sambil mendekapnya di balik jubah panjangmu yang gelap. Dia, tak tahu siang dari malam. Panas dari hujan. Seperti tertidur di bawah kendalimu. Lalu aku, hanya bisa menunggu sampai kamu selesai mengaso dan dia terbangun kembali.

Aku lelah berlari mengejarmu, Waktu. Kamu selalu mengajakku berpacu kencang atau membuatku menunggu tanpa kepastian. Belum cukupkah semuanya? Kamu seperti terus menerus mengujiku. Setiap kali aku berhasil melewati ujianmu, kamu seperti menyerah lalu pergi. Tapi kamu selalu kembali dengan ujian yang lebih berat lagi. Kurang ajarnya lagi, kamu selalu membawa serta Rindu ketika kamu kembali. “Aku bawa dia untuk menemanimu berpacu melawanku.” begitu kamu katakan padaku pada suatu malam. Aku hanya bisa mencebik dengan kesal karena Rindu langsung menggelendot manja di lenganku tanpa permisi.

Hei Waktu! Yang fana adalah kamu, bukan aku. Bukan kami. Tapi kamu dengan liciknya selalu berkelit sambil membawa serta dirinya pergi dariku. Menyelipkannya di balik jubah panjangmu sampai entah kapan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s