Perempuan Dalam Cermin

Aku itu menatap bayanganku di cermin yang sudah usang itu. Seharusnya itu adalah bayanganku sendiri, tapi aku tak mengenali perempuan yang membalas tatapanku dari dalam cermin. Perempuan itu terlihat asing bagiku. 

“Siapa kamu?” tanyaku itu dengan nada penuh selidik. Perempuan dalam cermin itu tersenyum getir, “Kamu.” jawabnya pendek. Aku mengerutkan dahi, “Tapi kamu tak terlihat seperti aku!” ujarku sedikit memprotes. Perempuan dalam cermin itu tertawa keras-keras, “Memangnya kamu tahu seperti apa rupamu kalau tidak karena bercermin padaku?” sanggahnya sambil mendengus kecil. Aku yang berdiri di depan cermin pun terdiam. Betul juga, aku membatin sendiri.

“Ada Apa denganmu?” tanya perempuan dalam cermin. Aku diam sejenak, “Tidak apa-apa.” jawabku datar. “Dusta!” sambar perempuan dalam cermin. “Betul. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah dan ingin berhenti saja.” jawabku lagi. “Lelah? Karena apa?” perempuan dalam cermin itu terdengar heran. “Semuanya.” jawabku pendek. Untuk sesaat kami berdua sama-sama terdiam. “Lelah dengan hidup. Lelah mendengar naséhat orang yang tak paham akan situasiku. Lelah merindu. Lelah menanti. Lelah segalanya….” aku yang berdiri di depan cermin akhirnya menjelaskan.

“Sakit?” tanya perempuan dalam cermin itu dengan nada sedikit berempati. Aku mengangguk, “Sangat….” jawabku pelan. “Tapi tak ada luka yang menganga. Tak ada darah yang mengucur… Otakku tak bisa memahami rasa sakit yang timbul tanpa adanya luka dan darah yang mengucur…” sambungku kemudian. Perempuan dalam cermin itu menatap dengan sedikit gelisah, “Lalu, apakah kamu merasa perlu mencari luka?” tanyanya sedikit hati-hati. Aku tertawa kecil, “Entah… Aku sendiri pun masih belum tahu.” aku menjawab dengan sedikit mengawang. Lalu aku itu mengalihkan pandanganku ke tangan. Sebilah pisau terselip di sana. Aku diam sesaat. Menimbang-nimbang.

“Jangan!” cegah perempuan dalam cermin itu. Perempuan itu mengangkat wajahnya, “Kenapa?” tanyaku dengan nada sedikit terganggu. “Resapi saja sakitnya. Tak perlu mencari luka dan darah.” jawab perempuan dalam cermin itu. Aku menghela nafas panjang, “Tapi sakit tanpa luka menganga dan tanpa darah itu absurd! Abstrak! Aku tak suka….” jawabku sedikit merajuk. Perempuan dalam cermin itu menatapku lurus-lurus. “Ceritakan padaku…” katanya kemudian. Aku membalas tatapannya, “Tentang apa?” tanyanya. “Semuanya…” kata perempuan dalam cermin.

Tenggorokanku sedikit tercekat. Ada banyak hal di dalam rongga kepalaku. Ada banyak rasa di dalam rongga jiwaku. Tapi tak satupun yang bisa aku keluarkan. Lalu semua seperti menggumpal dan mulai menutup aliran oksigen ke kepalaku. Sakit. “Kamu tahu rasanya sakit luar biasa di kepala karena menahan tangis?” tanyakan pada perempuan di dalam cermin itu. Dia menggeleng, “Kalau begitu jangan ditahan…” ujarnya mencoba memberi saran. “Mungkin bukan aku yang menahan. Entah apa atau siapa. Yang jelas, dadaku sesak dan kepalaku sakit.” jawabku lagi. “Aku tak mau mereka tahu.” sambungku kemudian. “Lakukan di balik pintu yang tertutup atau di tengah derasnya hujan yang turun…” kata perempuan dalam cermin itu. Aku hanya diam. Hujan sudah lama tak menyambangi kota ini. “Ya…. Bisa saja. Aku toh setiap hari menangis hingga tertidur…” jawabku lagi. “Aku tidur sekedar agar bisa tak merasakan sakit itu…” kataku dengan nada getir.

Aku menatap perempuan dalam cermin itu, “Mau kah kamu menolongku?” aku bertanya dengan nada putus asa. “Apa yang bisa aku lakukan untukmu?” dia balik bertanya padaku. “Bantu aku untuk bertahan dan tetap kuat…” kataku padanya. Dia menatapku sambil tersenyum sedih, “Tentu saja. Bicaralah denganku kapan saja kamu mau… Aku tahu, kamu tak punya teman bicara…”  jawabnya padaku sambil melirik pisau yang masih terselip di tanganku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s