Elang dan Kirana: Babak Baru

Kirana menebar pandangannya sambil berjalan keluar dari pintu kedatangan internasional. Dia mencari sosok yang menjemputnya. “Ra!!!” tiba-tiba sebuah suara memanggil. Kirana mencari sumber suara itu. Seorang laki-laki berbadan tinggi melambai penuh semangat. Seketika itu pula senyuman di wajah Kirana merekah lebar. “El!!!” panggilnya sambil bergegas berjalan mendekat. Keduanya saling berpelukan erat.

“Apa kabar kamu, El?” tanya Kirana sambil memandang sahabatnya dari atas hingga ke ujung kaki. Laki-laki itu tertawa renyah, “Baik, Ra. Seperti yang kamu lihat, aku masih hidup! Alive and kicking!” jawab Elang seenaknya. Keduanya pun tertawa bersama, “Sini, biar aku bawakan kopermu. Mobilku parkir dekat sini kok.” kata Elang sambil meraih koper dari tangan Kirana. Lalu keduanya berjalan bersama menuju area parkir sambil berceloteh ramai.

“El, aku lapar….” kata Kirana sedikit manja ketika sudah duduk di dalam mobil. Elang serta merta tergelak. “Kamu ini ya…. Ya sudah. Ingin makan apa?” kata laki-laki itu sambil mulai menjalankan mobilnya. “Terserah…” jawab Kirana sambil menyalakan sebatang rokok. Elang menaikkan alisnya, “Well, glad that some things never change…” katanya lagi. Kirana tertawa, “Surprise me!” jawab perempuan itu. Elang mendengus kecil sambil menggelengkan kepalanya.

Kira-kira satu jam kemudian keduanya sudah duduk di sebuah kafe. Kirana memesan ayam bakar dan es teh manis. Elang memesan segelas es capuccino. “Kamu tidak lapar?” tanya Kirana ketika mendengar Elang hanya memesan minum saja. Laki-laki itu menggeleng, “Masih kenyang. Nanti kalau lapar juga aku pesan. Tenang saja, Ra.” jawabnya. Kirana mengangkat bahunya. “So, tell me Ra…. sudah punya pacar lagikah kamu?” tanya Elang tanpa basa-basi. Kirana yang sedang menyalakan rokoknya tiba-tiba tersedak. “Kenapa itu sih yang kamu tanyakan pertama? Kamu tidak ingin tahu bagaimana pekerjaanku atau kehidupanku di sana?” Kirana menjawab dengan bersungut-sungut. Elang hanya tertawa, “Ah, gampang itu! Tidak usah ditanya pun kamu apsti akan cerita, Ra. Tapi kalau pacar baru, belum tentu kamu mau langsung cerita.” ujar Elang sambil menyalakan sebatang rokok. Kirana menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Matanya tampak menerawang jauh. Elang memperhatikan diam-diam.

“Ada, El. Nala namanya. Kanala….” Kirana memulai. “Nama yang bagus…” kata Elang sedikit berbasa-basi. Kirana hanya mencebik mendengar komentar sahabatnya. “Tapi nanti sajalah ceritanya…” ujar perempuan itu tiba-tiba. “Rumahku sudah berhasil kamu jual, El?” perempuan itu mengalihkan topik pembicaraan. Baru saja Elang hendak mulai bicara, waitress datang membawa pesanan mereka. “Aaaah, makan dulu sajalah kamu, Ra…” ujar laki-laki itu. “Aku makan, tapi kamu kan bisa sambil bercerita, El…” sanggah Kirana. Elang hanya tertawa kecil. Kirana mulai menyantap ayam bakar pesanannya, “Jadi….? Sudah berhasilkah?” dia mengulang pertanyaannya. Elang berdehem kecil, “Sudah sih…” kata laki-laki itu. Wajahnya tampak sedikit bimbang. Kirana menatap Elang dengan pandangan tak mengerti, “Lalu? Kok pakai ‘sih’…?” tanyanya sedikit tak sabar. “Apakah kamu perlu data pembelinya Ra?” tanya Elang sedikit hati-hati. Kirana yang sedang sibuk dengan makanan di depannya hanya menggeleng, “Tidak, El. Tidak penting buatku. Berapa harga yang diminta?” ujar perempuan itu. “Sebenarnya semuanya sudah beres. Harganya sesuai dengan apa yang kamu tawarkan dan gironya sudah aku cairkan dan aku masukkan ke tabunganmu di sini….” Elang menjawab dengan santai. Kirana terkejut, “Oya??? Tidak ditawar-tawar?” tanyanya sedikit kaget. Elang menggeleng. “Sama sekali tidak, Ra. Pembelinya langsung setuju dan pada hari yang sama dia langsung mengurus pembayarannya.” jawab laki-laki itu. “Woow….” Kirana berseru kecil, “I must be the luckiest girl on earth!” ujarnya dengan ekspresi wajah senang. Elang ikut tertawa. “I think you are!” jawabnya sambil mematikan rokoknya. “Nah, sekarang, sebelum aku mendapat tempat tinggal baru, berarti kamu harus mau menampung aku dulu di rumahmu ya El?” ujar Kirana setengah memaksa. “Astaga! Harus ya, Ra?” kata laki-laki itu dengan mimik muka kurang senang. Kirana tergelak, “Harus, El!” katanya sambil tertawa. Elang hanya menepuk dahinya, “Sial!” serunya. Lalu keduanya sama-sama tertawa.

“Babak baru untukmu ya, Ra….” kata Elang kepada sahabatnya. Kirana mengangguk, “Ya, El…. babak baru untukku. Untuk kita…” katanya dengan penuh keceriaan. Sejurus kemudian perempuan itu sudah bercerita panjang lebar tentang pekerjaannya, petualangannya dan segala sesuatu yang dilakukannya di negeri yang jauh itu. Elang hanya mendengarkan sambil sesekali bertanya tentang satu – dua hal. Namun matanya tak bisa ditipu. Ada sesuatu yang hilang dari Kirana, tapi Elang belum bisa menentukan hal apakah itu…. Yang dia tahu saat ini hanya satu: Kirana masih hidup. Alive and kicking!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s