Membunuh Sepi

20-eye-tears-drawing

Aku pernah menyeduh sepi dan membunuh rindu. Tapi sudah lama sekali aku melakukannya. Aku menyeduh sepi bersama malam yang pekat, lalu aku membunuh rindu karena dia selalu datang tanpa permisi, tanpa basa-basi dan tak tahu waktu. Meski begitu, rindu dan sepi selalu tumbuh kembali. Seperti ekor cicak yang tumbuh lagi sehabis dipotong. Mereka selalu kembali… kembali…. dan kembali lagi.

Aku sedang duduk seorang diri, memikirkan bagaimana cara terbaik untuk membunuh sepi, ketika dia datang menghampiriku. “Apa yang sedang kamu lakukan?” tanyanya tanpa basa-basi, persis seperti rindu ketika sedang hadir. Aku mengalihkan pandanganku kepadanya sambil menatapnya dengan heran. Aku tak kenal dia. Dan aku yakin dia pun tak kenal aku. “Kenapa kamu ingin tahu?” aku balik bertanya kepadanya. Dia mengangkat bahu sedikit, “Aku memperhatikanmu sejak tadi. Kamu hanya diam terpekur saja, seperti sedang memikirkan sesuatu.” ujarnya ringan. Aku mencebik sedikit, “Nah, itu kamu tahu aku sedang berpikir!” sambarku sedikit sinis. “Aku ‘kan tak tahu pasti. Bisa saja kamu hanya melamun…” sanggahnya. Aku mendengus kecil, sementara dia duduk di hadapanku.

“Ceritakan padaku…” katanya setelah beberapa saat duduk di hadapanku tanpa berkata-kata. Aku mengangkat wajahku dan menatapnya, dahiku berkerut sedikit, “Tentang apa?” tanyaku. Dia tersenyum lebar, “Semuanya….” jawabnya. Kerutan di dahiku semakin dalam ketika dia meneruskan kalimatnya, “Tentang apa yang kamu pikirkan di sini…” Aku menatapnya lurus-lurus. Untuk sejenak aku terdiam, tak tahu apakah aku harus menuruti permintaannya atau tidak. Apa untungnya bagiku? Dan apa pula untungnya baginya? “Aku sedang memikirkan bagaimana caranya membunuh sepi…” akhirnya aku menjawab. Sosok itu menjerit tertahan, “Kenapa kamu ingin membunuh sepi? Apa salahnya padamu?” katanya sedikit mencecar. Aku menghembuskan nafas panjang, lalu melempar pandanganku ke arah lain.

“Apa yang salah dengan sepi?” sosok itu berkata lagi dan membangunkanku dari lamunan. “Karena dia memberiku rasa sakit!” jawabku ketus. “Karena sepi yang ini, bukanlah sepi yang beraroma kedamaian. Sepi yang ini penuh dengan kegelisahan…” sambungku. Sosok itu terlihat tercenung, “Aku tak sadar bahwa ada sepi-sepi lain selain  dari yang memberi kedamaian…” katanya lirih. Aku mendengus kecil. Ya, sepi yang ini sungguh penuh dengan aroma getir dan pahit. Sepi ketika berada di tengah keramaian; sepi ketika termarjinalkan; sepi ketika tereliminasi dan tidak dilibatkan dalam banyak hal; sepi ketika mengalami suatu perubahan. Sepi ini menggigit dan dingin beku rasanya. Seperti ketika kita mencoba untuk menggenggam es kering. Terasa sakit di kulit.

Aku sering menemukan diriku berada di antara riuh rendahnya celoteh manusia atau di tengah hingga bingar dentuman musik, tapi aku begitu terisolir. Kadang aku ada di antara percakapan namun tak bisa terlibat di dalamnya. Semua pintu seolah pelan-pelan tertutup, namun terbuat dari kaca sehingga aku masih bisa melihat semuanya. Hanya melihat, tak ikut serta. Melihat dengan jelas, namun diberi pembatas yang nyata.

Adakalanya aku mendapati diriku berdiri di tengah lautan manusia tanpa bisa menemukan mana arah yang benar. Ketika aku berjalan sendiri, orang-orang memandangku dengan aneh. Ketika aku ikut arus, orang-orang mencemooh. Tapi sepi yang paling sepi adalah ketika kita duduk berhadapan namun terasa berjauhan. Getir itu lalu menjadi nyata seketika. Lalu sepi itu mulai menghadirkan rasa sakit…

Sebelum aku ingin membunuh sepi, aku mencoba berteman dengannya. Tapi sepertinya dia tak sudi berkawan denganku. Dia selalu lari menjauh atau menghunuskan pisau dari balik sayap-sayapnya yang dingin. Sementara ketika aku bergerak menjauhinya, dia akan berlari mengejarku. Menggodaku dengan kata-kata manisnya, membujukku untuk segera memeluknya. Dan ketika aku akhirnya merengkuhnya ke dalam pelukanku, dia menancapkan pisaunya di dadaku sambil bertanya, “Kenapa kamu berdarah, sayang? Sakitkah?”

“Aku tahu bagaimana caranya membunuh sepi!” tiba-tiba sosok itu berkata, mengembalikan pikiranku yang sejak tadi berlarian entah ke mana. Aku menatapnya, “Bagaimana?” tanyaku penuh rasa ingin tahu. “Dengan orang lain!” dia berkata setengah berseru. Aku tertawa pahit, “Tapi bagaimana jika orang lain itu yang menyebabkan datangnya sepi yang getir ini?” aku balik bertanya padanya. Dia tersenyum simpul, “Selaraskan saja langkahmu dengannya.” dia menjawab dengan ringan. Dahiku berkerut, “Bagaimana jika dia berubah?” tanyaku lagi. Sosok itu menatapku dalam-dalam, “Kamu tahu, satu-satunya hal yang abadi di dunia ini hanyalah perubahan. Semua akan terus berubah. Tak ada yang tetap sama. Apapun itu…” jawabnya dengan mimik muka serius. Aku membalas tatapannya, “Lalu…?” tanyaku. “Selaraskan saja dengan perubahan yang ada. Niscaya sepi akan terbunuh dengan sendirinya…” jawabnya sambil berdiri.

“Mau ke mana kamu?” tanyaku. “Pulang.” jawabnya pendek. “Dan kamu… Selamat membunuh sepi…” ujarnya sambil mengecup pipiku sebelum mulai melangkah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s