Bukit Penantian

images

Perempuan itu menunjuk sebuah bukit yang terlihat menjulang di kejauhan. Aku tercekat. Nafasku terhenti untuk sesaat, “Aku harus ke sana?” tanyaku padanya tanpa bisa menyembunyikan rasa terkejutku. Perempuan itu mengangguk. Aku menatapnya lurus-lurus, berharap tawanya pecah berderai lalu berkata padaku bahwa dia hanya bercanda. Tapi perempuan itu membalas tatapanku dengan ekspresi wajah yang tak berubah. Ah, rupanya dia tak bercanda. Sepertinya aku memang harus pergi ke bukit itu. Bukit Penantian…

Bukan soal jarak yang aku permasalahkan. Jarak menuju bukit itu sebenarnya tak seberapa. Tapi kenapa aku harus ke sana? “Kenapa aku yang harus ke sana? Tak adakah cara lain?” tanyaku pada perempuan yang berdiri di depanku. Dia menggeleng, “Ini penantianmu, bukan? Jadi, kamulah yang harus ke sana. Sederhana saja.” ujarnya sedikit dingin. Aku menghela nafas panjang. Haruskah…? Aku membatin sendiri. “Bagaimana jika aku tak mau menunggu di sana? Aku pergi ke tempat lain, misalnya….” aku masih mencoba untuk bernegosiasi. Perempuan itu mengangkat bahu lalu tertawa kecil, “Terserah.” jawabnya pendek. “Aku hanya memberitahu kamu saja, bahwa bukit itulah yang mesti kamu tuju saat ini. Tapi kalau kamu lebih suka pergi ke tempat lain, tidak apa….” sambungnya sambil mengibaskan rambutnya. “Tapi jangan salahkan siapa-siapa jika apa yang kamu nantikan tak bisa menemukanmu, karena kamu berada entah di mana…” perempuan itu menutup penjelasannya sambil menatapku dalam-dalam, seolah mencoba mencari kemantapan hatiku.

“Apakah ada banyak orang di sana?” tanyaku sedikit penasaran. Perempuan itu tersenyum simpul. “Bukit itu ramai, tapi juga sepi. Ramai, karena kamu bukanlah satu-satunya manusia yang memiliki penantian. Setiap saat selalu ada orang yang pergi ke bukit itu.” ujarnya sambil mempermainkan ujung rambutnya. “Sepi, karena setibanya di sana kamu tak akan bertemu dengan siapapun. Setiap orang ada dengan penantiannya masing-masing. Individualis. Tidak ada yang berbagi. Tak bisa dibagi. Penantianmu hanya milikmu seorang. Tak bisa diperbandingkan. Tak bisa dilihat oleh orang lain. Tak ada yang tahu persis karena itu adalah rahasiamu dengan semesta….” lanjutnya dengan pandangan menerawang. Aku menahan nafas.

“Sounds like it’s a very lonely place to be….” gumamku pelan. Perempuan itu mengalihkan pandangannya kepadaku lalu tersenyum, “Loneliness makes the night air smells better…” jawabnya bijak namun sedikit getir. Aku menatap perempuan itu. Wajahnya pucat tapi bercahaya teduh meski kadang terlihat sedikit dingin. “Lalu apa yang bisa aku lakukan di bukit itu nanti?” tanyaku. Dan sejurus kemudian aku merasa bodoh. Perempuan itu menjawab, “Menunggu. Hingga penantianmu berakhir… Sesuai dengan nama bukit itu. Bukit Penantian.” katanya dengan nada suara sedikit jengkel. Aku tersenyum malu. “Nah, aku hanya mengantarmu sampai di sini aja. Good luck…. and please, be patient. Patience is virtue. Yakin saja penantianmu tak akan sia-sia….” katanya sambil mulai melangkah meninggalkanku. Aku terpaku. Diam. Berpikir. Haruskah….?

Meskipun aku masih tak sepenuh hati, namun itu hatiku. Kakiku tampaknya sudah membuat keputusan, karena selagi hatiku diliputi rasa bimbang, kakiku sudah mulai melangkah menuju bukit itu. Ditemani hembus angin semilir, aku terus melangkah mendekati Bukit Penantian. Benar apa yang aku perkirakan, jarak menuju bukit itu sebenarnya tak seberapa. Tak perlu waktu lama, aku telah mulai menapaki punggung bukit itu. Aku berjalan menuju puncaknya. Puncak Bukit Penantian….

Setibanya aku di puncak, aku menghempaskan ranselku yang berat ke atas rumput, lalu rebah menghadap langit yang sudah mulai teduh. Matahari bersembunyi di balik gumpalan awan putih yang berarak. Pandanganku menerawang sejenak. Aku mengatur nafas, kemudian mulai membongkar isi ranselku. Kamu. Aku. Kita. Rindu. Lara. Cinta. Cemburu. Jarak. Rasa sakit. Semua bercampur aduk menjadi satu di dalam ranselku. Aku mengeluarkan semua dan menebarnya di sekitarku.

“Banyak sekali isi tasmu… Berat?” tiba-tiba angin bertanya padaku. Aku tertawa kecil, “Tidak juga. Mungkin karena semua masuk sedikit demi sedikit, jadi tubuh dan pikiranku sudah terbiasa…” jawabku sambil tersenyum. Angin membelai wajah dan rambutku. “Kamu baru tiba, sepertinya…” katanya. Aku mengangguk sambil merebahkan tubuhku kembali di atas rumput. “Apa yang kamu nantikan?” tanya angin penuh selidik. Aku diam sejenak sambil melirik segala sesuatu yang tadi aku keluarkan dari dalam ransel. “Aku menantikan abstraksinya menjadi realitaku….” jawabku pelan. Angin kembali membelai wajahku, kali ini sedikit hangat, “Good luck….” bisiknya di telingaku sebelum berlalu.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s