Teman Dalam Hening

Kepada langit malam yang bisu aku menumpahkan semua kegundahanku. Tentang cinta. Tentang lara. Tentang rindu. Tentang pilu. Tentang pelangi yang lengkungnya diselimuti badai. Hanya langit malam yang setia mendengar semua keluh kesahku tanpa pernah menghakimi. Dia hanya diam sambil sesekali mengusap wajahku lewat hembus angin.

Aku sungguh ingin mewarnai langit malam. Agar tak selalu kelam kelabu. Namun pekatnya hitam terlalu kuat untuk aku lawan. Setiap kali aku menggores warna, dia menyerapnya hingga punah. Dia tak pernah melarang untuk mewarnainya, namun dia juga tak pernah membiarkan gores warna dariku muncul. Makan aku berhenti mencoba.

Kepada langit malam yang bisu aku merebahkan kepalaku, menyandarkan tubuhku yang penat untuk sejenak rehat. Kepalaku bising. Begitu banyak pikiran yang berlarian liar di dalamnya. Hanya langit malam yang bisa membuat semuanya berhenti untuk sejenak dan hening sesaat.

Dan ketika hening itu tiba, hanya ada aku dan langit malam. Berpelukan erat dalam senyap. Sejatinya hanya langit malam lah teman dalam heningku. Karena hanya dia yang mendengar tanpa menghakimi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s