Jelang Tengah Malam

Ada detak di setiap detik yang merambat pelan namun pasti. Merayap, beringsut pergi meninggalkan aku yang masih terjaga. Dia menghampiri tengah malam. Aku rebah dalam diam yang gaduh. Jelang tengah malam, sakit itu mulai merangsek masuk…

Lalu Suara-suara dari dalam rongga kepala mulai bermunculan. Semua bergumam lirih, mengeluarkan suara tak jelas serupa dengung kepak sayap rombongan lebah madu dan capung. Aku bisa mendengar mereka, tapi tak bisa mendengar apa yang disampaikan. Yang aku tahu, semua biasanya menyampaikan perintah untukku…

Jelang tengah malam, aku ditemani detak detik yang merayap di dinding kamarku. Dia bergerak pelan tapi pasti. Bergerak menjauhiku tapi sekaligus mengejar aku dan menghela aku untuk lari. Tentu saja aku menolak! “Sudah malam!” sergahku sambil menarik selimutku.

Jelang tengah malam, aku menanti sebuah keajaiban yang aku tahu tak akan tiba; kamu mengetuk pintu kamarku…

Jelang tengah malam, kepalaku masih berisik. Semakin berisik tapi tak ada suaramu di sana. Kamu hilang bersama rembulan yang bosan bertengger di langit. Aku rindu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s