Kamu dan Kamu

Aku duduk di dalam ruangan serba putih ini dengan buku sketsa di tangan. Sudah cukup lama aku duduk menyelesaikan gambarku ketika kamu masuk. Kamu dengan kaos hitammu menjadi sangat kontras dan tajam di dalam ruangan ini. Aku mengangkat kepalaku ketika mendengar langkah kakimu mendekat. Kamu tersenyum kecil, mengecup kepalaku, mengusapnya sedikit lalu menghampiri rak buku. Aku memperhatikanmu dalam diam. Kamu yang juga dalam diam, sibuk memilih buku yang berderet di rak itu. Pandanganmu menyapu setiap judul yang ada, lalu menarik salah satu. Entah buku apa, aku tak bisa melihat. Lalu kamu duduk dan mulai membaca. Tak ada sapa. Tak ada panggilan sayang untukku. Hening….

Aku berhenti memulas warna pada buku sketsaku untuk sejenak, menatapmu yang duduk di seberangku dan tampak tenggelam dalam bacaanmu. Tak rindukah kamu padaku? Kita sudah lama tak bertemu, sayangku. Tapi rupanya kamu lebih rindu membaca buku itu daripada berbincang denganku. Apakah kamu tak ingin tahu kabarku? Apakah kamu tak ingin tahu bagaimana aku menangis diam-diam setiap malam karena rindu yang tertahan? Apakah kamu tak ingin tahu bagaimana aku bisa melewati hari-hariku tanpamu? Apakah kamu tak ingin tahu apa-apa lagi tentangku?

Aku masih menatapmu dari seberang tempat dudukmu. Jarak di antara kita tak besar, hanya beberapa langkah saja. Tapi jurang yang diciptakan oleh keheningan di antara kita terasa begitu lebar. Sejenak aku terpikir untuk membuka percakapan, tapi urung karena melihat dahimu yang berkerut tanda fokusmu pada bacaanmu. Aku menghela nafas panjang lalu kembali pada gambarku.

Aku tak tahu berapa lama kita terjebak dalam senyap ketika aku kembali mendengar suara langkah kaki mendekat. Aku mengangkat kepalaku dan menoleh ke arah suara kaki yang semakin dekat itu, kamu! “Hai sayang!” kamu menyapaku dengan mesra. Dahiku berkerut sedikit, namun tak ayal aku menjawab, “Hey, darling…” Kamu dengan baju biru muda, tampak kontras namun teduh di dalam ruangan serba putih ini. Kamu menghampiriku, lalu mengecup kepalaku lama sekali. Seperti ingin menumpahkan rindu yang selama ini tertahan. Lalu kamu tersenyum lebar padaku sambil seraya duduk di sampingku, “Sedang menggambar apa kamu, sayangku?” tanyamu sambil mengalihkan pandanganmu ke buku sketsa di depanku. Aku masih belum bisa berkata-kata, hanya menatapmu lurus-lurus.

Aku menoleh kepadaku dan mendapati sedang menatapmu. “Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanyamu dengan nada heran. Aku tersentak, seperti bangun dari lamunanku. Ada dua kamu dalam ruangan ini. Tapi sepertinya kalian tidak saling terganggu dengan keberadaan masing-masing. Aku, di lain pihak, bingung. Jika kamu yang berbaju biru muda adalah kamu… Siapakah kamu yang berbaju hitam dan sedang duduk membaca itu? “Hey… kamu kenapa?” lagi-lagi pertanyaanmu membangunkanku dari lamunan pendek. “Itu siapa….?” akhirnya aku bisa bersuara sambil menunjuk kamu yang sedang membaca dengan pandanganku. Kamu mengikuti arah pandanganku, lalu tertawa kecil, “Ah, tidak apa-apa. Biarkan saja dia di situ dengan kesibukannya…” katamu tanpa mencoba untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Kamu yang berbaju hitam tampak tak bergeming dari buku yang ada di tangannya. Tak terganggu. Mungkin juga tak peduli.

Kepalaku masih diselimuti kebingungan ketika mulai berbincang denganmu. Kamu yang berbaju biru muda ini adalah kamu yang aku kenal. Hangat dan penuh kemesraan. Kamu yang ingin tahu segala sesuatu tentangku selama kita tidak bertemu; bertanya tentang apa saja yang sudah terjadi dan apa yang terlewatkan olehmu; bercerita tentang hal-hal lucu yang kamu alami selama tak denganku. Kamu yang membuat jiwaku dialiri rasa hangat. Kamu yang membuatku merasa dicintai. Kamu yang tak bisa berlama-lama tak bertukar cerita denganku. Aku tersenyum melihatmu ada di sampingku, hingga aku terlupa akan kamu yang berbaju hitam. Aku bahkan tak lagi memperhatikan apakah kamu yang berbaju hitam masih ada dalam ruangan ini atau tidak.

Aku memelukmu erat, “Aku rindu sekali padamu….” kataku. Kamu mendekapku lebih erat, “Aku juga rindu sekali padamu, sayang….” kamu berbisik di telingaku lalu mengecup kepalaku. Dan kita pun saling mendekap erat, menuntaskan rindu yang tertahan untuk sekian lama. Kalimat rindu yang kamu padaku ucapkan seperti bergema di seluruh ruangan…

Lalu aku tersentak. Aku terbangun dari tidurku. Sendiri. Tak ada kamu. Tak ada pesan darimu. Aku tercekik rindu dan lara…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s