Menyusuri Aliran Pikiranmu

Aku menatap layar telepon genggamku. Ada beberapa pesan masuk di sana. Tapi bukan darimu. Pesanku padamu beberapa jam yang lalu pun bahkan belum kamu baca. Aku menghela nafas panjang lalu meneruskan membaca. Namun pikiranku tak bisa diajak kompromi. Aku tak bisa fokus pada bacaanku. Kamu terus-terusan merangsek masuk ke dalam rongga kepalaku.

Ingatkah kamu, sebelum ini kita seolah tak bisa lepas dari satu sama lain. Kita selalu saling memberi kabar sesering mungkin. Kita selalu saling menyapa, saling mengingatkan untuk makan siang atau kegiatan lainnya. Terutama kamu… Kamu selalu mengingatkanku untuk makan siang tepat waktu. Kamu selalu rewel untuk urusan yang satu itu. Kamu selalu mengingatkanku untuk minum vitamin. Kamu selalu menyapaku setiap pagi dengan kalimat-kalimat mesramu. Dan mengucapkan selamat tidur dengan tak kalah mesranya.

Ingatkah kamu, kita sering berbincang hingga lupa waktu. Bertukar cerita tentang banyak hal, berdiskusi tentang apapun yang bisa kita diskusikan. Intinya, kita selalu berbincang. Bahkan ketika topik pembicaraan kita hanyalah seputar hal-hal konyol yang tak penting, tapi kita tetap berbincang hingga pagi menjelang. Rasanya kita tak pernah kehabisan bahan percakapan. Kita selalu punya banyak cerita untuk disampaikan.

Ingatkah kamu, betapa tinggi intensitas komunikasi yang terjalin di antara kita? Kita sama-sama selalu mencari dan mencuri waktu untuk menyapa dan sekedar bertanya bagaimana hari kita masing-masing. Kamu selalu memberitahuku apa yang akan kamu lakukan atau ke mana kamu hendak pergi. Aku pun begitu. Kamu selalu memberitahu aku ketika kamu sudah tiba kembali di rumah. Begitu pun aku. Kamu selalu menyempatkan untuk menghubungiku setiap hari. Begitu pun aku.

Tapi sapa itu surut belakangan ini. Surut dan tak semesra dulu. Kamu sering pamit untuk pergi tidur lebih cepat. Jawabanmu atas pesan-pesanku jauh lebih pendek. Aku lebih banyak bertanya dan kamu hanya menjawab. Kamu tak banyak bertanya. Entah karena kamu tak ingin tahu, atau kamu sudah tahu rutinitasku yang itu-itu saja sehingga kamu merasa tak perlu lagi bertanya. Dulu kamu menghujaniku dengan sejuta panggilan sayang. Sekarang tidak lagi seperti itu. Kamu seringkali membaca pesan-pesanku namun tak segera menjawabnya. Pesan-pesanmu terasa begitu dingin bagiku dan aku pun mulai gelisah…

Aku mulai melihat banyak kebiasaan kecil yang selalu kamu lakukan padaku yang hilang belakangan ini. Aku merasa ada jarak di antara kita. Sejenak aku merasa kamu seperti sedang menjauhkan diri dariku. Mungkin kamu terlalu sibuk dengan pikiranmu sendiri hingga tak sadar bahwa ada banyak hal kecil yang terlewatkan, terlupakan atau hilang. Mungkin kamu tak tahu bahwa hal-hal kecil ini sangat besar maknanya bagiku. Kehilangan hal – hal ini merupakan kehilangan besar bagiku. Aku khawatir kamu kesal kepadaku tapi tak mau mengatakannya. Aku khawatir kamu memendam sesuatu yang tak enak. Aku khawatir ada sesuatu terjadi padamu tapi kamu tak ingin aku tahu. Dan masih banyak lagi kekhawatiran yang berkecamuk di dalam rongga pikiranku. Tapi khawatir akan kehilanganmu adalah yang terbesar…

Aku menghabiskan malam-malamku menangis diam-diam hingga tertidur. Aku rindu kamu yang dulu. Aku rindu kita yang dulu. Aku kehilangan rutinitas kecilmu untukku. Aku kehilangan rewelnya kamu mengingatkanku untuk makan siang. Aku kehilangan sapa-sapa mesramu. Aku kehilangan panggilan-panggilan sayang darimu. Aku rindu berbincang panjang lebar denganmu. Aku kehilangan kamu….

Adakalanya semua kehkawatiranku sirna ketika kamu menghubungiku. Suaramu dan caramu berbicara denganku masih sama seperti dulu. Dan itu membuatku sedikit lega. Tapi segera setelah telepon dimatikan, hening panjang kembali melanda dan aku kembali masuk ke dalam lingkaran kekhawatiran yang sama. Aku seperti berhadapan dengan dua sisi dari dirimu. Apakah kamu sedang mengujiku? Aku tak tahu… Yang aku tahu hanyalah aku rindu kamu…

Aku mencoba menyusuri aliran pikiranmu. Aku bisa merasakan, pikiranmu kusut. Mungkin bukan tentangku. Mungkin bukan tentang kita. Mungkin tentang hal-hal lain dalam hidupmu. Tapi jika kamu berubah seperti ini, tentu kamu sedang menghadapi sesuatu yang rumit. Lalu aku merasa sedikit bersalah karena merasa ditinggalkan olehmu. Tapi rasa adalah rasa. Aku tak bisa mengelak dari apa yang aku rasakan. Salahkah jika aku merasa sedikit kehilanganmu? Salahkah aku jika merasa sedikit rindu pada perhatian-perhatian kecilmu?

Aku masih mencoba menyusuri aliran pikiranmu. Aku tersesat. Tapi setidaknya aku berusaha untuk bisa memahami isi kepalamu, sayang…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s