Ketika Senja Tak Berwarna

Aku menyukai langit senja yang berwarna. Aku suka melihat lembayung memenuhi pelataran langit, menari sambil menunggu malam turun. Tapi hari ini senja tak berwarna. Langit hanya memberikan warna kelabu. Tak ada lembayung yang menari bersama awan. Sepi.

Aku tak tahu kenapa lembayung tak datang menyapa senja hari ini. Mungkin dia lelah menari dan kesal karena ketika sedang asyik menari, malam datang mengusirnya. Mungkin juga dia bosan bercengkrama dengan langit senja yang lebih banyak diam dan menjadi penonton saja. Mungkin lembayung marah pada awan yang seringkali mengganggu tariannya, hanya sekedar untuk menggodanya sesaat lalu kemudian berlalu bersama angin. Mungkin juga dia sibuk di pelataran langit yang lain. Entah lah…

Tapi aku masih di sini, menanti sapa dan cerita yang biasanya disampaikan lembayung di tengah tariannya. Aku suka mendengarkan kisah-kisahnya yang beragam. Kadang jenaka, kadang pilu, kadang penuh petualangan. Aku masih berharap lembayung akan datang membawa selendangnya kemudian mulai menari. Tapi langit senja ini tetap kelabu. Lembayung tak datang menyapa, apalagi menari…

Aku menatap langit yang putih bersemu kelabu. Ah, betapa membosankannya ketika tak ada warna di sana. Dia hanyalah sebuah pelataran besar dengan beberapa gumpal awan yang berarak, bergerak mendekat atau menjauh. Hari ini tak ada senandung tentang cahaya di langit utara, atau dongeng tentang tanah-tanah yang indah di belahan lain negeri ini. Hari ini senja begitu senyap. Sepi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s