Dari Balik Bayang-Bayang [2]

Aku tegak seorang diri, menatapmu dari kejauhan. Dari balik bayang-bayang aku menekuri sosokmu. Sosok yang kadang nyata dan kadang hanyalah sebuah abstraksi semata. Rindu kita berjarak, maka aku hanya bisa menghela nafas panjang sambil terus menanti. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menanti. Meski waktu seringkali mencurangi kita.

Dari balik bayang-bayang aku menggerus rindu. Meretas rasa sepi yang mendera dalam jiwa. Adakalanya langit pun sepi dari lembayung yang menari di senja hari. Begitu pula kita, ada kalanya hening tercipta walaupun kita sama-sama menggenggam rindu dengan erat.

Dari balik bayang-bayang aku berkenalan dengan Lacuna. Sebuah tempat kosong. Serpihan yang hilang. Kamulah Lacuna yang mengisi rongga jiwa dengan kekosongan dan kehilangan tentangmu. Hampa ini abadi sampai kamu kembali. Aku hanya bisa menanti dari balik bayang-bayang, karena di situlah tempatku berdiam. Di bawah keteduhan dan keremangan malam. Sendiri berteman rembulan dan angin malam.

Dari balik bayang-bayang aku menahan semua rasa rindu yang bercampur dengan rasa sakit. Rindu ini milikmu, tapi rasa sakit ini milikku…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s