Rindu Yang Berjarak

Ada rindu bersemayam dalam rongga jiwaku. Dia diam di situ tanpa permisi. Tak peduli sekuat apa aku berusaha mengusirnya, dia tetap diam tak bergeming. Mematung. Beku. Kukuh dan kokoh. Entah sudah berapa banyak air mata terjatuh sia-sia, rindu itu tetap tertanam kuat dan mengakar, seperti pohon kembang mawar hitam di belakang rumah.

Lalu tiba-tiba rindu itu berjarak. Dia masih tetap mematung dan beku, mengakar kuat namun ada jarak yang membentang. Jarak itu merangsek masuk di antara sapa yang hilang. Merembes di sela-sela dinginnya kata-kata. Jarak itu dingin. Rindu itu beku. Kepalaku sakit merasai dingin dan beku yang terlalu. Segalanya terlalu dingin, hingga air mata pun beku. Tangis itu hanya ada dalam hati.

Aku mencoba menikmati rasa sakit yang berdenyar dalam rongga kepalaku. Barangkali rindu tak terasa jika aku hanya memuja rasa sakit yang ada. Tapi rindu tetap kokoh terselip di setiap denyut rasa sakit yang kian menguat setiap saat. Aku hilang daya. Hanya bisa menyerah pada rindu dan kesakitan yang menyertai….

Advertisements

One thought on “Rindu Yang Berjarak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s