Jangan Tangisi Kedatanganku

Aku menatap sosok yang duduk di hadapanku. Dia tak seseram yang sering diceritakan orang-orang. Menurutku, justru dia cenderung melankolis dan sendu, bahkan terkesan tenang dan damai. Tak terlihat kesan garang dari raut wajahnya yang teduh. Lalu kenapa orang-orang begitu takut bertemu dengannya? Aku sungguh tak mengerti….

Aku menekuri wajahnya yang teduh. Dia mengangkat wajahnya lalu tersenyum sedikit jengah, “Kenapa kamu memandangiku seperti itu?” tanyanya sedikit kikuk. Aku tertawa kecil, “Aku hanya sedang mencoba mencari apa yang selama ini dibicarakan orang-orang tentangmu.” jawabku. Dia ikut tertawa, “Ah, klise!” ujarnya sambil mengatupkan kedua tangannya di bawah dagu. “Tapi sungguh, aku tak mengerti…. kenapa hampir semua orang selalu menceritakan hal-hal seram tentangmu…” kataku lagi. Dia hanya menggedikkan bahunya, “Mungkin karena kadang aku datang di waktu-waktu yang dianggap tak tepat…” jawabnya. “Atau mungkin karena kamu datang menjemput orang-orang yang dicintai…” sambungku. Dia menggeleng, “Tidak selalu. Adakalanya aku mendatangi mereka yang jahat perilakunya…” katanya sedikit berkilah. “Sejahat-jahatnya orang, tetap saja ada yang mencintai. Bukankah begitu?” sanggahku. Dia diam sejenak, “Ya, memang sih…” ujarnya sedikit menggantung.

Senja mulai turun. Lembayung menari-nari di langit yang mulai gelap. Aku masih duduk berhadapan dengannya. “Kenapa orang selalu menganggap aku adalah akhir? Seolah-olah aku adalah hal paling kejam yang bisa terjadi pada manusia…” katanya sedikit mengeluh. Aku tertawa kecil, “Tentu saja! Karena mereka yang kamu jemput tak bisa ditemui lagi…. Maka kamu dianggap telah mengambil orang-orang yang dikasihi…” ujarku sambil menyalakan sebatang rokok. Dia ikut tertawa, “Story of my life…” jawabnya sedikit getir. “Ah, lucu sekali mendengar kamu berkomentar tentang hidup…” kataku sedikit berkelakar. “Sial!” katanya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

 “Hey…” katanya tiba-tiba setelah kami jatuh dalam diam sejenak. “Ya?” jawabku sambil menatap matanya yang teduh. “Maukah kamu menceritakan hal-hal baik tentangku kepada orang-orang?” pintanya. Aku menghela nafas panjang, “Ah, jangankan bercerita panjang lebar…. baru menyebutmu saja orang-orang sudah tak ingin aku melanjutkan. Mereka tak suka membicarakanmu… Aku tak boleh membicarakanmu, apalagi menceritakan tentangmu…” kataku pelan. Dia terlihat kecewa. “Maukah kamu mencoba lagi?” tanyanya sedikit menghiba. “Ceritakanlah, bahwa aku tak seseram yang mereka kira. Katakan pada mereka, bahwa aku bukanlah akhir. Aku sebenarnya membawa awal baru… Jangan tangisi kedatanganku…” ujarnya lagi. Aku tersenyum kecil, “Tanpa kamu minta pun aku selalu mencoba…” jawabku. Dia tersenyum lebar, “Terima kasih…” ucapnya, sejurus kemudian dia mengalihkan pandangannya ke langit senja. “Senja hari ini indah sekali ya….” gumamnya.

Aku duduk berhadapan dengan Kematian yang sedang mengamati senja di hadapanku. Sungguh, dia tak seseram yang diceritakan orang-orang kepadaku. Lalu, kenapa kita harus menangisi kedatangannya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s