Dermaga

ade932b7a86728b0809342532758881b

Aku memperhatikan jemarimu yang bertaut di antara jemariku. Kita memang tak banyak bicara, karena memang kita tak perlu kata-kata kala bersama. Genggam tangan dan tatap mata sudah cukup mengumbar apa yang kita rasakan, bahkan lebih dalam daripada jutaan kata-kata yang bisa saling kita lontarkan. Setiap kali kamu menggenggam jemariku, ada perasaan aneh yang menjalari dinding jiwaku. Rasanya seperti kita sudah saling menggenggam untuk waktu yang sangat lama. Mungkin jiwa-jiwa kita sudah lama saling menemukan. Mungkin hati kita adalah sahabat lama. Entah lah… Aku tak mengerti. Tapi bukankah tak semua hal di dunia ini harus dimengerti? Sebagian hanya perlu dirasakan saja.

Ketika lenganmu merengkuh tubuhku, aku menarik nafas dalam-dalam. Menghirup aroma wangi feromon yang keluar dari tubuhmu agar terpatri erat di dalam pikiranku. Kamu adalah misteri sekaligus satu-satunya kepastian bagiku. Kamu adalah realitaku ketika segala sesuatunya terasa begitu semu. Kamu adalah tempatku rebah di kala jiwa ini penat menyusuri hidup yang penuh kelok.

Ketika hangatmu menjalari diriku, aku melihat dermaga kecil yang selama ini terhalang kabut. Ketika denganmu, I am home, at last…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s