Tersesatlah Di Dalam Rongga Kepalaku

Aku mengamati jemari kita yang bergenggaman di tengah peluh. Aku kini sangat mengenali buku-buku jarimu yang terselip di antara buku-buku jariku. Sudah berapa lama kita jatuh dalam diam? Entah. Kita baru saja selesai berbincang tentang banyak hal. Bicara tanpa campur tangan perisai. Berbincang tanpa ada intervensi ego. Semuanya mengalir begitu saja. Aku benar-benar telanjang di depanmu. Tak satupun bagian dari isi kepalaku yang luput kau korek keluar, meski tanpa kata-kata.

Ketika kepala kita saling bersentuhan, isi kepala kita seolah saling melebur. Saling mencari untuk mengisi celah-celah kosong satu sama lain. Lalu aku tak lagi perlu banyak berkata-kata, begitu juga kamu karena kita adalah satu dalam pemikiran. Semuanya mengalir dalam alur yang sama; di tengah arus yang sama derasnya. Kita tak saling mendahului, hanya kadang sedikit berkejaran. Sedikit dinamis. Itu saja.

Kamu melucuti isi kepalaku. Tak ada lagi yang tersembunyi darimu. Tahukah kamu tentang itu semua? Mungkin kamu pun tak sadar bahwa kamu sudah menelusup hingga ke sudut tergelap dalam rongga kepalaku. Tak satu hal pun yang luput darimu.

“Apa yang kamu harapkan dariku?” aku bertanya. “Nothing.” jawabmu cepat. “Kamu tidak harus membuatku bahagia karena itu bukan tugasmu.” sambungmu. “Tapi itu tak masuk akal….” ujarku. “Kenapa?” kamu balik bertanya. “Kamu melakukan banyak hal untukku dan tidak mengharapkan apa-apa? Aku rasa itu sedikit aneh.” aku menjelaskan. Dahiku berkerut sedikit, “Lalu apa tugasku?” tanyaku sedikit kecewa. “Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Berbahagialah. Itu satu-satunya tugasmu.” katamu lagi.

What do you expect from me?” kini giliran kamu balik bertanya. “Nothing.” jawabku tak kalah cepat. “Aku hanya ingin bersamamu. Itu saja.” kataku lagi. Ya, aku hanya ingin itu. Meski aku tahu semua adalah fana. Meski sebuah tanya akan selalu berkeliaran di dalam rongga kepalaku, bagaimana jika suatu hari nanti aku tak lagi bisa bertemu denganmu? Tapi untuk saat ini, kamu ada di depanku dan itu sudah cukup bagiku. Untuk saat ini, aku benar-benar telanjang di depanmu tanpa perisai, tanpa pedang yang terhunus, tanpa strategi apa-apa. Hanya ada aku dan isi kepalaku. Tersesatlah di dalamnya, sayangku…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s