Kali Kesekian

Sudah berapa lama kita berhenti bertukar kata-kata manis? Entah. Terlalu lama hingga aku hilang hitungan. Setiap kata memiliki pedang yang tersembunyi. Terhunus dan siap melukai, bahkan di balik kata yang paling manis sekali pun. Setiap kata yang terlontar di antara kita selalu mengandung racun. Jika pun tak beracun, selalu ada kepahitan di dalamnya. Cinta itu racun. Maka ketika manisnya memudar, yang tersisa hanyalah racun. Getir yang merasuk hingga ke tulang sumsum kita.

Sudah berapa lama? Entah. Rasanya belum terlalu lama sejak pertukaran kata beracun yang terakhir kita lakukan, ketika tiba-tiba kamu datang dengan sebuket besar mawar putih. Ah, bukankah kamu tahu aku tak suka buket bunga, apalagi yang berukuran besar. Kali ini kamu datang dengan membawa rasa manis dalam setiap kata yang kamu ucapkan padaku. Kamu memang tak pernah gagal membuatku terpana…

Bukan. Aku bukan terpana mendengar semua kata manis yang kamu lontarkan kali ini. Aku terpana karena ini sudah kali kesekian kamu melakukan hal yang sama kepadaku. Kepada kita. Kita terjebak dalam satu lingkaran setan yang seolah tak ada habisnya. Bercinta – berbincang – berdebat – berkelahi – berpisah – berbaikan – bercinta – berbincang – berdebat – berkelahi – berpisah – berbaikan. Selalu begitu berulang kali.

Kamu akan berlalu untuk kemudian berlari kembali menghampiriku. Dan aku? Akan selalu menyambut uluran tanganmu dengan hangat. Jika aku yang berlalu, kamu akan menjauh sebentar namun kemudian kamu akan berlari menghampiriku. Mengejar dan mendekapku, mengatakan padaku bahwa hidupmu tiba-tiba menjadi hampa. Dan aku? Akan selalu membalas dekapanmu dengan pelukan yang lebih erat.

Tapi ini sudah kali kesekian kita terjebak dalam lingkaran setan yang sama. Aku seolah baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang. Ini sudah kesekian kali kamu berlari menghampiriku dengan sebuket besar mawar putih sambil mengucapkan semua kata-kata manis yang menurut telingaku sudah terlambat untuk aku dengar. Ke mana kamu ketika aku benar-benar membutuhkan semua kata-kata manis itu? Kala itu kamu sibuk meracik racun.

Sudah kali kesekian. Kamu telah mengosongkan bejana jiwaku sekaligus racunmu telah membuatnya hancur berkeping-keping. Aku tak lagi punya tempat untuk semua kata-kata manismu. Maafkan aku. Aku harus menghentikan pusaran lingkaran setan ini. Cinta itu racun. Mungkin kamu tak pernah sadar, kamu telah meracuni jiwaku hingga aku tak lagi punya cinta untukmu… Yang tertinggal hanya satu kalimat untukmu,

“Fuck you!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s