[Bukan] Kotak Pandora

“Hello, how did you find me? Where have you been hiding? I know that you remind me of this fire inside me…” 

Aku duduk di atap gedung tinggi ini. Menatap senja yang berlalu dan lampu-lampu yang mulai menyala. Kota seolah sehamparan permadani yang berkelap-kelip. Udara sudah mulai sejuk dan angin bertiup sedikit kencang. Aku merapatkan jaketku, lalu menyalakan sebatang rokok.

Lembayung sudah mulai menyingkir. Langit berangsur gelap terisi oleh malam. Ada sedikit awan yang mengisi sudut-sudut langit. Mereka bergerak pelan, seolah membuka pelataran langit untuk bintang-bintang agar bisa bersinar, meski tak seluruhnya bisa terlihat. Sama seperti kamu. Aku tak selalu bisa melihat abstraksimu, tapi aku tahu kamu ada. Mungkin sibuk dengan pikiranmu. Mungkin pula sedang mengawasiku dari jauh.

Kamu seperti bintang malam, Tak selalu bisa aku lihat, tapi aku tahu kamu selalu ada. Ke mana pun aku pergi, kamu selalu bisa menemukanku. Entah bagaimana caranya, tapi kamu selalu berhasil menemukan tempat persembunyianku, bahkan di sudut yang paling gelap sekalipun.

“Feels like we’ve met somewhere before. Saw you, my heart just hit the floor. This time I’m following the signs. This moment could flash before your eyes…”

Kamu adalah bintang yang menggantung di langit tertinggi milik malam. Bukan hanya tak selalu terlihat, tapi juga paling sulit untuk diraih. Tak terjangkau sebab kamu berada jauh di luar orbitku. Kamu tersamar di antara ribuan bintang lainnya. Mungkin kita pernah berpapasan pada suatu masa ketika cahayamu sedikit redup. Mungkin kita pernah beberapa kali berpapasan ketika segala sesuatu di sekeliling kita begitu terang benderang sehingga cahayamu tak sampai kepadaku.

Malam ini aku melihatmu sedikit. Kamu berkedip seperti memberi tanda kepadaku bahwa kamu ada dan mengawasiku. Aku tersenyum kecil sendiri. Lalu aku merasa sendirian meskipun tak kesepian. Sesekali kamu menitipkan pesan untukku lewat angin yang melintas. Mungkin itu caramu untuk memberitahu aku bahwa aku tak sendirian. Mungkin itu caramu untuk menghiburku agar aku tak merasa kesepian.

“So, if we just can’t get it right, the maybe we’ll try in another life. If I died in your arms tonight, then baby, I’ll see you on the other side. If I died in your arms tonight, then baby, I’ll see you in another life…”

Lalu aku teringat percakapan kita pada suatu malam. Kamu turun untuk menemaniku yang sedang duduk sendirian di atas bukit. Aku memikirkan banyak hal. Memikirkan senja. Memikirkan pelangi. Memikirkan kamu.

“Apakah kamu percaya pada kebetulan?” tanyaku padamu. Kamu menggeleng. “Jika memang tak ada kebetulan di dunia ini, lalu kenapa kita bertemu? Kenapa sekarang?” sambungku. Kamu membetulkan posisi dudukmu, “Well, aku juga pernah mempertanyakan hal yang sama.” katamu. “Sekarang adalah saat yang tepat.” kamu menyambung perkataanmu. “Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku.” sanggahku sedikit kesal. Betapa generiknya jawabanmu itu.

“I was a different person back then. If we crossed path years ago, we wouldn’t have the ability to support each other…” kamu menjelaskan. Aku diam sejenak. A different person... “Does it matter? Many people support each other even when they have nothing.” kataku. “That is true. Maybe we could, but mentally? I don’t think so…” jawabmu lagi. Dahiku berkerut sedikit, tanda kurang terlalu setuju dengan pernyataanmu. “But we have a lot of complications now…” aku berkata pelan. Kamu tersenyum, “But after years of rough and winding roads, complications mean nothing. They are just another challenges to face…” kamu menjawab sambil mengusap punggungku. Seperti ingin memberiku ketenangan.

Ah, betapa senangnya jika otakku bisa berpikir dengan begitu ringannya seperti kamu. Rongga kepalaku selalu sesak dengan berbagai pikiran yang seringkali meracuniku. “Isn’t it a very naive way to see it?” aku mengeluarkan pendapatku. “So?” sambarmu cepat. Aku menghela nafas sejenak, “What if we miscalculate the challenges?” tanyaku. “Calculate again.” jawabmu cepat. “What if we have no time?” cecarku. Kamu tertawa kecil, “Time? What is time?” kamu balik bertanya padaku. Sebuah pertanyaan yang terdengar sederhana, namun sungguh sulit untuk aku jawab. Aku terdiam.

“Time entails many aspects, don’t you think?” jawabku akhirnya. Kamu menggeleng, “Nope.” katamu pendek. Lagi-lagi aku terdiam, “What if I died tomorrow?” tanyaku kemudian. “I’ll throw the biggest party for you. With 8 roses and I’ll cremate you.” katamu sambil menyalakan sebatang rokok. “Where are you going to scatter my ashes?” tanyaku lagi. “Seas and and mountains.” jawabmu mantap sambil menghembuskan asap dari rokok yang baru saja kamu nyalakan. “But then if I died tomorrow, it means my time in this world has stopped.” ujarku lagi sedikit mengingatkan. “Then wait for me to join you…” jawabmu sambil tersenyum padaku. Aku merebahkan kepalaku di pundakmu, “That is the sweetest answer…” ujarku dalam hati.

“So long that I’ve been waiting. I’ve been anxiously patient for our love to rule the nations. The future is what we are facing.”

Aku masih duduk di atap gedung tinggi ini. Ada sebuah kotak di sampingku. Kamu menitipkan kotak itu kepadaku beberapa waktu yang lalu. Kala itu aku menerima kotak yang terkunci rapat itu dengan perasaan campur aduk. Apakah itu kotak Pandora? Aku tak tahu. Kamu hanya mengatakan padaku bahwa pada suatu saat nanti, kotak itu akan terbuka sendiri dan aku akan bisa melihat isinya. Aku bimbang. Bagaimana jika itu kotak Pandora? Apa yang akan terjadi? Chaos? Mungkin…

Lalu pada suatu malam, kotak itu terbuka dengan sendirinya. Beberapa waktu sebelum kotak itu terbuka, ada perasaan aneh yang mengisi rongga dadaku. Aku tak bisa mendefinisikan rasa itu. Semuanya seolah bercampur menjadi satu sehingga menciptakan sebuah rasa baru yang tak punya nama. Tak ada definisi. Hanya ada rasa untuk dirasai, tak untuk dijelaskan ataupun untuk didefinisikan. Nikmati saja – aku membatin sendiri. Bukankah tak semua tanya di dunia ini memerlukan jawaban? Bukankah tak semua hal di dunia ini memerlukan penjelasan?

Aku pun meneruskan perjalananku menyusuri jalurku yang sepi. Dan ketika kotak itu akhirnya terbuka, berbagai macam rasa berlompatan keluar. Semua yang selama ini aku rasa sebagai sesuatu yang sepele, tiba-tiba menjadi penting. Tiba-tiba aku melihat abstraksimu di mana-mana. Seketika itu pula aku merasakan begitu banyak hal tentangmu yang berlompatan keluar dari dalam rongga kepalaku. Semua yang tak pernah aku sadari. Semua yang tak pernah aku anggap ada. Semua yang tak pernah aku tahu. Semua yang tak pernah aku rasakan tiba-tiba menjadi begitu jelas. Sepertinya kamu telah meracuni pikiranku entah berapa lama. Kamu menanam benih itu dan membiarkannya tumbuh mengakar tanpa aku pernah tahu hingga akarnya menjebol pertahananku. Kamu terlalu kuat hingga tembok tinggi yang aku bangun pun akhirnya runtuh.

Lalu tiba-tiba aku mendapati diriku berhadapan denganmu. Aku nyaris telanjang. Kamu telah melucuti semua isi kepalaku. Kamu menelanjangi jiwa dan pikiranku. Aku menatapmu, “Apa yang kamu inginkan?” tanyaku pelan. “Aku ingin bisa mengerti kamu, sayang…” jawabmu sambil menatapku. “Jika aku tak mengerti isi kepala dan jiwamu, bagaimana caranya aku bisa menjagamu?” sambungmu sejurus kemudian. “But I am complicated. I’m a walking paradox…” jawabku lagi. Kamu tertawa kecil, “I know. So?” kamu menjawab singkat.

“How paradoxical are you exactly?” kamu ganti bertanya padaku. “Yes means yes. Yes means no. Maybe means yes. Maybe means no. No means no. No means yes. No means maybe.” ujarku. Aku menahan nafas, mengawasi perubahan di wajahmu seusai mendengar jawabanku. Orang lain biasanya akan segera mengucapkan salam perpisahan begitu mendengar jawabanku. Kamu berjalan mendekatiku, “Human is complicated...” katamu kemudian. Aku tertawa kecil, “Yeah, especially me!” kataku sedikit getir. “For me it’s just like ‘yes’ or ‘no’…” katamu lagi. Aku membuang pandangan ke arah lain, “” Yeah, not for me. Aku pun seringkali tak bisa mengerti diriku sendiri…” kataku lagi masih dengan sedikit nada getir.

“Dirimu yang mana?” tanyamu. “Semuanya.” aku menajwab pendek. “Which one of you?” kamu sedikit mencecar. “Aku yang mellow. Aku yang sok kuat. Aku yang jutek. Aku yang introvert. Aku yang pemarah.” jawabku sambil menatap matamu lurus-lurus. Sudah puaskah kamu? Kamu balas menatapku, “Anyone else?” kamu bertanya seolah menantang. Aku tercekat sedikit lalu membuang pandangan ke bawah, “Aku yang sebenarnya adalah yang mellow, introvert, penyendiri dan tidak percaya diri….” aku menjawab lirih. Ya, eksteriorku tidak berarti apa-apa. Aku yang sebenarnya adalah yang senang mendengarkan gemercik suara air hujan yang turun dengan deras; yang mencintai wangi aroma tanah basah seusai hujan reda. Aku yang sesungguhnya adalah perempuan yang mendapati ketenangan dari menatap senja sambil mengawasi matahari yang terbenam dan mendapatkan kedamaian dari gelapnya malam. Aku yang sesungguhnya adalah anak kecil yang memeluk erat boneka Teddy Bear sambil menangis ketika sedih sedang melanda.

“Aku tahu….” tiba-tiba kamu menjawab. Aku tersentak dari lamunanku. “Lalu apa lagi?” tanyamu padaku. Aku menggeleng, “Sudah. Itu saja…” jawabku pendek. “It’s not even a paradox, darling.…” kamu berkata sambil tertawa kecil. Aku mencebik. Ah, kamu selalu begitu. “Paradoxical enough for me…” jawabku sedikit merajuk. “I understand you....” akhirnya kamu berkata sambil memelukku erat.

“But if we choose to turn the page, will that lead to the end of days? That’s why you are the missing piece. There’s no way to run from destiny….”

Angin yang berhembus sedikit kencang dan menerpa rambutku tiba-tiba membangunkanku dari lamunanku. Aku menatap langit di atasku. Tak banyak bintang yang muncul. Langit sedikit berawan. Aku tak melihat abstraksimu, tapi aku tahu kamu ada di sana. Mengawasiku di kejauhan.

Kotak itu masih ada di sampingku. Tertutup namun tak lagi terkunci rapat. Aku masih tak tahu apakah kotak ini kotak Pandora atau bukan. Tapi sejak kala itu, aku membiarkan isinya berlompatan ke luar – masuk sesukanya. You are the missing piece and there’s no way to run from destiny…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s