Lingkaran

Sudah hampir satu dekade berlalu. Detik-detik berlalu bersama angin utara yang sejuk. Tak ada yang akan berputar kembali meski semua bergerak seperti lingkaran. Lingkaran demi lingkarang pun dilalui, tapi tak pernah melewati lingkaran yang sama. Setiap akhir adalah awal bagi lingkaran baru. Lalu kita bergerak berputar terus dan terus. Kita mengira jalan yang kita lalui selalu sama, namun sebenarnya tidak. Perjalanan itu entah kapan dan di mana akan berakhir. Tak ada yang tahu. Kita hanya akan selalu berjalan berputar, mengelilingi lingkaran demi lingkaran.

Aku melihatmu berjalan di lingkaran lain. Lingkaranmu sendiri. Tapi aku hanya melihat punggungmu. Kamu melangkah menyusuri jalanmu sambil menggandeng rembulan. Kamu tak menoleh ke manapun. Kita saling menjauh, tapi sekian lingkaran kemudian kita akan kembali berpapasan. Tapi aku tahu, kamu tak pernah melihatku melewatimu. Dan aku tak pernah bisa membuka mulutku untuk memanggilmu. Aku hanya bisa berjalan sambil menatap kamu berlalu.

Pada suatu masa, aku melihatmu di mana-mana. Kamu ada di langit senja; di temaramnya langit malam; di wajah orang-orang yang lalu lalang di jalan; di sudut-sudut kota; di percikan tempias air hujan yang jatuh; di sinar matahari pagi yang menyelinap di antara dedaunan. Kamu ada di mana-mana. Tapi kamu tak pernah ada di realitaku.

Sudah hampir satu dekade berlalu. Di manakah kita sekarang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s