Biru [Part 5]

Biru, kamu ada di setiap sudut jiwaku. Aku kini sudah mulai terbiasa dengan dingin dan bekumu. Sepertinya aku juga sudah mulai bisa menikmati rasa sakit yang kamu hadirkan untuk menghilangkan rasa sakitku yang lain. Kadang aku memang masih bisa merasakan sakit itu, namun rasa sakitmu lebih mendominasi. Mungkin kita memang pada dasarnya sadomasochistic. Tak bisa lepas dari rasa sakit. Selalu ada pembenaran untuk menghadirkan rasa sakit meski dengan alasan dan dalam bentuk yang berbeda. Sakit tetaplah sakit, apapun alasannya, bagaimanapun bentuknya.

Biru, apakah kamu akan beranjak dariku ketika semua rasa sakitku sudah hilang dan berganti dengan rasa sakitmu? Ataukah kamu akan selalu ada, memenuhi semua sudut jiwaku dengan dingin dan beku itu? Entah kenapa, aku yang dulu begitu benci padamu, kini justru seolah tak bisa lepas darimu. Ketika kamu memudar, aku mulai resah dan mencari-cari sosokmu. Hangat tak lagi bisa menenangkanku.

Biru, tahukah kamu bahwa aku selalu mencari teduh pendar cahayamu di langit malam. Kamu adalah juxta posisi. Kamu adalah paradox di semestaku. Sakit yang menenangkan. Sakit yang meneduhkan. Aku dihadapkan pada pilihan sulit. Sebenarnya yang aku inginkan hanyalah ketenangan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s