Mengunci Hati

Aku bergegas melangkah melewati pusaran waktu. Aku pejamkan kedua mataku agar berbagai kejadian yang telah lalu tak berkelebat di pelupuk mataku. Pusaran waktu serupa badai yang mencekik leherku di tengah udara. Seolah ingin memaksaku untuk melihat setiap detil kejadian yang telah lewat. Aku tetap memejamkan mataku rapat-rapat dan terus berjalan tanpa henti.

Mengunci hati adalah satu hal yang harus aku lakukan. A total lock down! Aku pernah memberikan kunci hatiku padamu, namun apa yang terjadi? Kamu membuang anak kuncinya dan berlalu tanpa kata. Berbilang hari dan bulan kita tak bertegur sapa. Kamu pergi seperti angin, aku menanti seperti rembulan. Tak pernah bisa bertaut.

Aku sudah hampir berhasil melewati pusaran waktu ketika segumpal kenangan tentang kita menarikku kembali masuk. Aku tersesat. Sambil mencoba untuk berdiri aku membuang anak kunci yang sedari tadi aku genggam erat di tanganku. Lalu seketika pusaran itu terhenti. Sekelilingku tiba-tiba menjadi sunyi. Senyap. Hening. Terlalu hening hingga begitu pekak di telingaku. Lalu aku melihatmu datang bersama angin. Sayang, aku sudah mengunci hatiku…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s