Biru [Part 3]

Biru, apa kabar kamu? Sudahkah kamu menghangat seperti apa yang selalu aku impikan? Ataukah kamu akan tetap dingin dan beku, mewakili rasa sakitku? Kamu yang selalu mengintip dari balik kerah kemejaku sambil melepas tikam, sudahkah kamu renungi apa yang selama ini telah kamu perbuat padaku? Kamu membuat hatiku beku.

Biru, meski pendarmu teduh dan sejuk, tapi pedang yang kamu sembunyikan di balik jaketmu selalu menorehkan luka di dinding jiwaku. Menyisakan darah yang menetes dan seringnya tanpa aku sadari. Tetes darah itu jatuh, merambat di sepanjang alur perjalanan hidupku hingga aku nyaris kehabisan tenaga.

Biru, meski sakit terasa, kadang aku rindu dinginmu. Ketika hati dan jiwaku menghangat, aku resah. Merindu beku yang seolah melindungiku dari rasa sakit lain. Kamu menutup rasa sakit dengan rasa sakit, menghilangkan cemas dengan beku, menetralkan rasa dengan dinginmu.

Biru, apa kabar kamu? Rindukah kamu untuk menyakitiku? Hanya untuk yang terakhir kali….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s