Di Balik Kabut

Entah sudah berapa lama aku duduk sendiri. Menanti dan terus menanti untuk sesuatu yang entah kapan tibanya. Kamu. Aku bahkan tak pernah tahu, apakah kamu akan datang atau tidak. Kamu seperti angin, datang dan pergi sesukamu. Kamu hanya memberitahukan kedatanganmu jika hendak membawa badai.

Lalu aku dilanda kebosanan dan mulai berjalan menyusuri punggung bukit hingga ke seberang padang. Langkahku terhenti sejenak ketika padang yang membentang begitu kerontang. Mau ke mana aku sebenarnya? Aku bertanya-tanya sendiri. Mencarimu, sudah tentu! Aku menjawab diriku sendiri. Ke mana? Entah…

Aku meneruskan langkahku. Padang ilalang sekarang kerontang, tak lagi aku temui kembang ilalang yang dulu sering menyambutku dengan tariannya. Di kejauhan aku melihat bayangan di balik kabut dan awan mendung. Apakah itu kamu? Entah…

Diam-diam aku mengharapkan kamu ada di balik kabut itu. Aku tahu, berharap adalah akar kekecewaan. Tapi untuk sekali ini, biarkanlah aku berharap sedikit saja. Aku berharap ada kehangatan di balik kabut yang membentang. Ada peluk dan rindu yang menantiku dengan penuh suka cita. Ada mata yang menatapku penuh keteduhan dan ketenangan.

Aku berhenti tepat di depan hamparan kabut yang pekat. Bayangan-bayangan itu masih samar berjajar di balik kabut. Aku mereka-reka di manakah kamu….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s