Jarak Yang Berjarak

Pada jarak yang berjarak aku menitipkan hatiku yang berwarna biru. Biarlah dia mempermainkannya selagi beku. Sebelum akhirnya mencair kembali. Itu pun jika memang bisa mencair kembali. Sudah berapa lama? Aku tak ingat. Terlalu lama, hingga semua tampak begitu mengabut dan berdebu. Betapa kuatnya kuasa benci, hingga mampu membuat hatiku membiru. Tapi bukankah lebih baik beku daripada dirajam rasa sakit? Ah, entah lah… Aku tak tahu…

Jarak yang berjarak bukanlah soal tubuh yang berjauhan. Atau perkara jemari yang tak saling bertaut. Bukan pula soal lengan yang tak bisa saling merengkuh. Adalah jarak yang lebih dari sekedar sentuhan; jarak yang ada di antara jemari yang saling terselip. Jarak yang terdengar begitu pekak dalam keheningan. Jarak yang tercipta di antara jutaan ucapan cinta yang dilontarkan setiap hari. Jarak yang tercipta dari kedekatan tubuh. Ketika lengan saling merengkuh, namun jiwa berkelana entah ke mana. That fucking distance!

Pada jarak yang berjarak aku titipkan rindu yang telah berkarat. Karena ini bukan soal jemari yang tak bertaut atau mata yang tak saling menatap. Tapi ini perkara rindu yang terselip dalam sepatu usang yang kau pakai ke mana-mana. Selalu ikut ke mana pun kamu pergi, namun tak pernah tiba di ceruk jiwa yang sesungguhnya.

Mungkin hati memang seharusnya biru dan membeku. Mungkin rindu memang seharusnya berkarat dan terselip di sela lidah sepatumu. Peduli setan jemari ini bertaut atau tidak. Karena jarak yang berjarak lah yang punya kuasa. Bukan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s