Peluk Aku, Angin…

Angin datang dan pergi sesuka hatinya. Seringkali tak pula sesuai dengan keadaan. Dia tak datang ketika panas mentari membakar bumi, tapi kerap berkunjung ketika dinginnya malam menusuk hingga ke tulang. Aku serba salah menghadapinya. Merengek memintanya datang ketika hari begitu terik, tak digubris. Menyuruhnya menjauh ketika dingin malam tiba, ditertawakan. Tapi jika aku tak berkata apa-apa, dia merajuk dan mengatakan aku tak rindu kepadanya. Ah, lalu aku harus bagaimana?

Senja itu angin datang berderu-deru kepadaku. Dibawanya serta segerombolan awan kelabu yang membuat lembayung terpinggirkan. Aku jadi tak bisa menikmati senjaku. Kesal! “Halo sayangku…” dia menyapaku dengan tengil sambil mengusap wajahku. Aku hanya memandangnya dengan kesal. “Kenapa kamu membawa serta awan dan mengganggu lembayung?” tanyaku sedikit ketus. Angin hanya tertawa lalu berkata, “Mereka tidak menganggu lembayung. Hanya sedikit jahil. Nanti juga berlalu.” ujarnya sambil mengitariku. Aku mendengus kecil.

“Marah?” tanyanya sambil menatapku. Aku membuang pandangan ke arah lain. Tapi dia ada di mana-mana. “Sayang, ke mana pun kamu mengarahkan pandanganmu, aku akan selalu ada.” ujarnya sambil tertawa. “Ya. Selagi kamu ada!” sambarku. “Kamu tak rindu aku?” tanyanya sambil melintas di sela-sela rambutku. “Tentu saja aku rindu! Sepertinya kamu yang tak rindu aku…” jawabku sambil mencoba mengalihkan pikiranku dari keinginan untuk bercengkrama dengannya. Dia harus diberi pelajaran! – begitu pikirku.

“Aku bukannya tak rindu kamu….” ujarnya berbisik di telingaku. “Lantas?” tanyaku dingin. “Aku harus mengunjungi banyak tempat. Kamu tahu itu, bukan?” jawabnya kali ini dengan nada sedikit serius. Ah, mengunjungi banyak tempat katamu? Menciptakan badai dan angin ribut, mungkin itu maksudmu. Aku membatin sendiri. “Kemarin kamu menitipkan pesan, kamu akan sering-sering menemuiku…” kataku sedikit merajuk. Angin melesat mengelilingiku. Menerbangkan kelopak bunga dan daun-daun yang gugur. “Inginku memang begitu, tapi kadang ada hal-hal yang tak bisa ditunda dan dihindari…” ujarnya sedikit sedih.

Di sudut langit lembayung mulai beranjak pergi. Gerombolan awan masih menari sambil berseru memanggil angin. Aku mengalihkan pandanganku kepadanya, “Beri aku satu hal saja…” kataku lirih. Angin menatapku, “Apa itu sayangku?” tanyanya sambil membelai wajahku. “Peluk aku, angin…” pintaku sedikit getir. Dia menatapku dengan pandangan sedih, “Sungguh aku ingin…. Tapi aku tak tahu caranya….”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s