Menelanjangi Pikiran

Aku duduk menikmati langit senja yang nyaris kelabu. Ada sebungkus rokok dan segelas besar es teh manis yang menemaniku. Dan ada dia, sesosok lelaki yang duduk bersisian denganku. Bersama-sama kami duduk memandangi senja yang meredup dan gemerlap lampu kota yang mulai menyala. “Rokokmu masih ada?” tanyanya sambil menoleh. Aku mengangguk, “Masih banyak.” jawabku pendek. Lalu kami kembali terjatuh dalam diam. Bersama-sama menikmati temaramnya malam yang mulai jatuh.

“Aku ingin bertanya sesuatu. Boleh?” tiba-tiba suaranya memecah kebisuan di antara kami. Aku tersenyum kecil, “Tentu saja. Tanya apa?” jawabku sambil menoleh kepadanya. Laki-laki itu menatapku lurus-lurus, “Why you never let anybody take good care of you?” ujarnya. Jantungku serasa nyaris berhenti berdetak. Aku tercekat. Nyaris tersedak asap rokokku sendiri. What kind of question is that??? — aku merutuk dalam hati sambil mencoba menguasai rasa kaget yang melanda. Perasaanku campur aduk tak karuan. Pertanyaan itu begitu sederhana, namun laki-laki itu tak sadar seberapa besar kompleksitas yang terkandung dalam pertanyaan tersebut.

Aku bukannya tak pernah mau membiarkan orang lain merawatku. Andai dia tahu bahwa keinginanku yang terbesar adalah berhenti berpikir dan membiarkan seseorang merawatku. Aku tak ingin lagi harus merasa khawatir setiap hari. Aku ingin bisa bangun tidur lalu melakukan apa yang aku suka tanpa harus berpikir bahwa jika suatu saat aku berhenti akan ada perut-perut yang kelaparan. Why you never let anybody take care of you? — tidak. Pertanyaanmu salah, sayang… Pertanyaan yang benar adalah, Who would take care of me?

Aku mengatur nafasku sejenak. Lalu menjawab, “Because every time someone said something like that, they lied… They left or they hurt me…” ujarku pelan. Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk, “Okay….” ujarnya. Aku masih terdiam sejenak, “Tidak hanya itu. Kadang mereka juga memaksaku untuk menjadi orang lain…” lanjutku. Dahinya berkerut, “Maksudnya?” dia bertanya dengan suara tak mengerti. Aku menghela nafas panjang. Tiba-tiba bernafas pun terasa begitu berat. Seluruh kejadian di masa lalu itu berkelebat di depanku. “Intinya mereka mencoba mengubahku, tapi bukan demi kebaikanku. Hanya demi memenuhi keinginan mereka saja. Menjadi perempuan versi yang mereka inginkan….” jawabku sambil menyalakan sebatang rokok lagi. “That is not right…” dia berkata sambil menghembuskan asap rokoknya. Aku tertawa getir.

“Kadang aku lelah acting strong, but I have no choice...” kataku sedikit pahit. Dia tersenyum kecil, “Yes, there is always a choice. Soal lelah, sudah pasti kamu lelah….” katanya sambil mengusap rambutku. Gampang sekali dia bicara soal pilihan denganku! Aku menatapnya dengan sedikit kesal, “When you are in my position, having choices is a luxury.” jawabku sedikit emosional. Dia tertawa kecil, “Iya. But at least kurangi acting strong-mu itu. Ketika kamu sedang tak kuat, ya sudah. Take a break…” ujarnya lagi.

Take a break. Sungguh terdengar seperti sebuah saran yang sederhana, namun bagiku urusannya tidak sesederhana itu. “Tidak semua masalah harus kita selesaikan saat itu juga.” dia menyambung kalimatnya. Aku menghela nafas panjang. Ah, andai dia tahu… “Dulu aku pernah melakukannya… tapi ternyata ada cukup banyak orang yang terdampak…” kataku pelan. Dia mengerutkan dahinya, “Seperti apa?” tanyanya. Aku menimbang-nimbang, apakah sebaiknya aku menceritakannya atau tidak, “Aku pernah kolaps. Dan ketika beberapa orang tahu, mereka berkomentar, kalau dia saja bisa kolaps, bagaimana dengan kita? Dan setelah itu banyak yang drop dan aku jadi merasa bersalah.” jawabku pelan.

Laki-laki itu tersenyum kecil, “It’s their choice to drop. Manusia tidak ada yang sama. Maaf kalau aku tak sependapat denganmu untuk satu hal ini.” ujarnya lagi. “That is never your fault. No. Tidak seperti itu.” tegasnya lagi. “Mereka punya pilihan untuk menjadi kuat atau tidak. Itu hidup mereka. Kamu sudah memberi contoh yang terbaik. Because you are a strong woman.” lanjutnya. Aku terdiam sejenak. “Everybody has their own limit…” laki-laki itu masih meneruskan ucapannya. “Salah seorang kawanku menyarankan, jalan terus saja. Tidak perlu mendengarkan apa kata orang.” giliranku berkata. Dia lagi-lagi tersenyum kecil, “It’s just words, darling…” katanya sambil menatapku. Aku membalas tatapannya dengan getir, “But words do hurt, hun…” jawabku. “What’s important is how you react to them. Rasa sakit yang kamu rasakan itu hanya reaksi saja. It’s nothing. Cuma sekedar numpang lewat saja…” dia berkata sambil menyalakan sebatang rokok.

Ah, betapa bahagianya bisa berpikir dengan begitu sederhana. Rasa sakit itu cuma sekedar numpang lewat — betapa ringan terdengar di telingaku namun tak terbayangkan bagaimana caranya untuk membuat sebuah rasa sakit itu hanya sekedar numpang lewat saja.  Otakku tak bisa mencerna dengan sesederhana ini. I do take words personally.

“Boleh aku bertanya sesuatu padamu?” kini giliranku. Laki-laki itu mengangguk. “Who do you think will take care of me?” ganti aku yang menatapnya lurus-lurus. Dia sedikit terkejut, “Someone you trust? I don’t know…” jawabnya. Aku menepuk bahunya sambil berseru kecil, “Exactly! You don’t know. I don’t know. No one knows!” sambarku. Dia hanya tertawa kecil saja sambil menatapku. Aku membalas tatapannya sambil bertanya, “How would I know?” Dia menggeleng, “Hanya kamu yang tahu.” ujarnya. Aku menggeleng kuat-kuat, “Aku tak pernah tahu. Somehow, untuk urusan yang satu ini, aku selalu salah!” sambarku sedikit keras. Dia memegang bahuku, “Kata-kata ‘tak pernah’-nya boleh diganti dengan ‘belum’…?” ujarnya. Aku mendengus kesal. Masa bodoh! – pikirku, “It’s been, God knows, how many fucking years and I still don’t know!” kataku setengah menjerit. “Don’t be too hard on yourself, sayang….” ujarnya mencoba menenangkanku. “Maybe the right person will come to my death bed!” ujarku dingin sambil menyalakan sebatang rokok dan menghembuskan asapnya kuat-kuat.

“Look at me, you know how old I am and I am doing new things…” katanya mencoba memberikan komparasi sambil menghibur. “That’s different.” jawabku pendek, masih dengan sedikit kesal. “Bagaimana jika apa yang aku lakukan ini salah?” laki-laki itu bertanya lagi. “Then you try something else.” jawabku asal-asalan. “Sama saja, bukan?” lanjutnya. Aku sontak menatapnya dengan pandangan kurang senang. Sama? Sama di mananya? Apa yang dilakukannya tak melibatkan emosi dan perasaan, sementara aku? Hmmph! “Tidak sama!” jawabku sedikit ketus. “Di mana bedanya?” laki-laki itu kembali bertanya, Oh my God, what is this? Fucking ‘Twenty Questions’ Game? aku merutuk dalam hati. “It doesn’t involve feelings.” jawabku lagi. “Feelings are feelings. They are only perceptions with labels.” ujarnya sambil menyapukan pandangan ke arah kota yang gemerlap. “Kadang banyak orang tertukar antara feelings dan state of mind...” sambungnya sambil menoleh kepadaku. Aku? Tak acuh saja. Tapi toh aku jawab juga, “Iya memang.” ujarku pendek.

“So, which one is feelings?” tanyanya sambil tersenyum jenaka. Aku menghembuskan nafas, “All sorts of emotional things. And physical too, I guess…” jawabku sekenanya. “Yes. And what about state of mind?” tanyanya lagi. Aku memejamkan mataku sejenak. Entah kenapa aku merasa seperti kembali ke bangku sekolah dan dipaksa mengikuti ujian lisan. “State of mind is more related to perception, I guess….” kataku asal-asalan. Laki-laki itu menyunggingkan senyum lebar, “Nope. Kebalik, sayang…” ujarnya sambil mengacak rambutku. “Human’s state of mind hanya ada dua. Love and fear. So, if you are talking about what is ‘how many years’, that is only perception. Jadi yang kamu lakukan dan yang aku lakukan sama saja…” jelasnya. Aku terdiam sejenak. “But I don’t want to do trial and error until the day I die…” ujarku lirih. “Of course, darling….” katanya sambil memelukku dari belakang. Aku memejamkan mataku yang terasa memanas. “It’s okay for you. You are doing new things. Me? I’m doing the same thing over and over again…” aku tak lagi sanggup menahan air mata yang sedari tadi sudah bersiap untuk meluncur keluar. Tetesnya tak deras. Hanya satu saja, tapi mengakir tak henti.

“Do you know what you need to change, then?” dia berbisik di telingaku. Aku hanya diam. Bukan mencari jawaban untuk pertanyaannya. Aku hanya merasakan sesuatu yang menjalari rongga pikiranku. I feel naked in front of him. Dia telah menelanjangi pikiranku begitu rupa hingga tak satu pun yang bisa aku tutupi lagi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s