Menanti Senja

Sudah berapa hari ini senja tak kunjung datang. Entah kenapa, aku tak tahu. Mungkin dia bosan menemaniku bersetubuh dengan lembayung. Atau mungkin juga dia enggan menatap mentari menenggelamkan tubuhnya dengan gaya sok dramatis. Meski begitu, aku masih tetap menantinya. Menanti senja yang tak kunjung datang. Menanti senja yang sepertinya sedang merajuk seperti gadis muda yang berkalung rindu…

Mungkin senja sedang berkabung. Meredakan keresahan dalam jiwanya yang kian hari sepertinya kian menyesakkan. Mungkin dia kesal karena setiap kali datang, dia harus berkelahi dengan malam yang selalu merangsek masuk ke pelataran langit dan mengusir lembayung. Senja harus selalu mengalah. Waktunya tak banyak. Seringkali memendek pula, sementara siang dan malam punya waktu yang begitu panjang untuk menguasai langit.

Senja seperti anak tiri yang selalu dipersalahkan. Apa yang dilakukannya tak pernah benar. Apa yang keluar dari mulutnya selalu salah. Datang terlalu cepat, tak disukai mentari. Pergi terlalu cepat, dimaki lembayung. Bertahan agak lama sedikit, didesak malam. Sementara aku tanpa senja adalah hampa….

Aku masih menanti senja yang tak kunjung datang. Aku tak tahu ke mana harus mencarinya. Batang hidungnya tak terlihat di seluruh penjuru langit. Senjaku sayang, selesaikanlah rajukmu… tapi jangan terlalu lama karena aku rindu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s