Kosong

Aku duduk mencakung di sebuah kursi sambil menatap keramaian di depanku. Malam sudah jatuh. Bulan sabit menggantung rendah sambil menebar pendarnya yang keemasan. Orang-orang di depanku masih ramai.

Dentum musik yang diputar keras-keras seolah ingin meredam riuh rendahnya celoteh yang keluar dari mulut-mulut beraroma alkohol. Semua bibir menyungging senyum. Semua menebar tawa dan seruan gembira dari waktu ke waktu.

Lalu tiba-tiba dia duduk di sampingku. Tangannya meraih korek gas yang tergeletak di atas meja. “Pinjam ya?” ujarnya sambil menyalakan rokok yang terselip di ujung bibirnya. Aku hanya mengangguk kecil. Dia meletakkan kembali korek gas itu di atas meja, lalu menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat.

“Kok tidak ke sana?” tanyanya. Aku menggeleng sambil tertawa kecil, “Malas. Terlalu ramai. Aku lebih suka memperhatikan dari jauh saja.” jawabku sambil menyalakan rokok. “Menarik ya, memperhatikan dari jauh begini…” ujarnya sambil memandang ke arah yang sama denganku. Aku mengangguk sambil tersenyum kecil.

“Ceritakan padaku, apa yang kamu lihat…” katanya tiba-tiba setelah kami jatuh dalam diam selama beberapa menit. Aku menegakkan posisi dudukku. “Hmmmm… empty vessels.” ujarku pelan. “Eh? Maksudmu…?” tanyanya dengan nada penuh selidik. “Yaaaah… mungkin kamu melihat mereka semua bergoyang, bergerak, tertawa, bercanda, bersuka ria… tapi aku hanya melihat tubuh-tubuh yang kosong tanpa jiwa…” jawabku lagi. “Ketika musik berhenti, mereka berhenti. Ketika musik kembali terdengar, mereka kembali bergerak dalam kesenangan semu.” lanjutku. “Hmmmmm menarik.” ujarnya. “Aku jadi bertanya-tanya sendiri. Apa sebenarnya yang mereka cari di sana…” kataku pelan. “Sudah tentu kesenangan!” sambarnya. “Ya memang, tapi sepertinya mereka mencari di tempat yang salah.” jawabku lagi. “Sebab, jika mereka sudah menemukannya, mereka tak akan terlihat begitu kosong…” kataku lagi.

Lalu kami sama-sama terdiam sambil memperhatikan orang-orang di depan kami. “Kamu benar…” tiba-tiba dia berkata. “Eh?” aku berseru sedikit heran sambil menatapnya. “Yeah, they are just empty vessels…” ujarnya sambil tersenyum. “Aku pulang dulu.” katanya kemudian sambil berdiri dan berlalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s