Perempuan yang Berpayung Membelakangi Langit

Aku melihat perempuan itu berjalan seorang diri. Wajahnya sunyi, sesunyi senja yang jatuh pelan-pelan tanpa lembayung. Perempuan itu berjalan sambil memegang payung, padahal hari tak lagi terik dan hujan pun tak turun. Entah kenapa dia masih saja berpayung.

Akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya. “Hai…” aku menyapa sedikit kikuk. Perempuan itu menoleh, menatapku sejenak lalu membalas sapaku, “Halo…” ujarnya sambil tersenyum kecil. Aku berjalan bersisian dengannya, “Sendirian saja? Mau ke mana?” tanyaku. Perempuan itu melambatkan langkahnya sedikit, “Ke padang di seberang hutan itu.” jawabnya sambil menunjuk ke arah hutan pinus di depan. “Kamu?’ ujarnya balik bertanya padaku. Aku sedikit tertegun. Aku bahkan tak tahu hendak ke mana aku sebenarnya. Aku hanya spontan membuntuti perempuan ini karena tingkahnya yang menurutku sedikit tidak biasa. “Aku mau ke bukit di seberang hutan pinus itu.” akhirnya aku menjawab sekenanya. Perempuan itu tertawa kecil. Aku pun ikut tertawa kecil.

Ketika kaki-kaki ini telah mulai melangkah masuk ke dalam hutan pinus yang sejuk dan teduh, perempuan itu masih saja berpayung. Meskipun dia banyak berceloteh, tapi aku tak bisa menepiskan pertanyaan dalam rongga kepalaku. Akhirnya aku tak tahan lagi, “Maaf, boleh aku bertanya?” kataku cepat sambil memegang lengannya untuk menghentikan cerita yang sedang meluncur dari bibirnya. “Ya?” jawabnya dengan sedikit bingung. “Kenapa kamu terus berpayung? Bukankah matahari sudah tak terik lagi? Dan juga hujan tak turun.” aku bertanya tanpa tedeng aling-aling. Dahi perempuan itu berkerut sedikit, “Memangnya kenapa kalau aku berpayung meski tanpa hujan ataupun terik matahari?” dia balik bertanya dengan nada kurang suka. Aku menelan ludah. Tidak enak, tapi penasaran. “Bukan apa-apa, hanya aneh saja…. Tidak biasa. Unik. Aku jadi ingin tahu alasanmu. Itu saja kok!” kataku sedikit berkilah. Wajah perempuan itu serta merta mengendur, tak lagi setegang sebelumnya. Tapi ada gurat kesedihan yang terpancar di raut wajahnya.

“Aku berpayung untuk membelakangi langit.” begitu jawabnya sambil mulai melangkahkan kakinya yang tadi sempat terhenti. Aku ikut meneruskan langkahku di sisinya. “Membelakangi langit?” aku mengulang perkataannya. “Ya. Membelakangi langit.” perempuan itu mengulang lagi jawabannya. Aku memandangnya dengan tatapan tak mengerti. Pertama, dia berjalan sambil berpayung tanpa peduli dengan cuaca. Lalu sekarang dia mengatakan alasannya adalah untuk membelakangi langit. Sungguh aneh. “Kenapa kamu membelakangi langit? Haruskah?” tanyaku lagi. Perempuan itu tertawa kecil, “Ya tidak harus. Tidak ada yang menjadi keharusan di dunia ini bagiku… Tapi aku memilih untuk begitu.” ujarnya pelan. “Alasannya?” aku sedikit mencecar.

Perempuan itu menghentikan langkahnya. Dia menegakkan sedikit payungnya sehingga aku bisa dengan jelas melihat wajahnya. “Aku membenci matahari.” perempuan itu menjawab dengan nada suara yang keras dan dingin. Beku. Sebeku bunga es di musim dingin. Aku menatapnya dengan pandangan bingung, “Tapi senja sudah turun. Matahari tak lagi ada…” kataku sedikit ngotot. Perempuan itu menatapku dengan sorot mata sedikit tidak suka, “Kamu pikir ketika matahari tak terlihat lagi, dia sudah benar-benar pergi? Tidak! Selama lembayung masih menari di langit, matahari masih berkeliaran!” desisnya pedas.

Aku masih berdiri, mencoba mencerna penjelasan demi penjelasan yang diberikannya padaku namun hasilnya nihil. Aku sama sekali tak paham! “Sudahlah, bukan urusanmu juga. Lebih baik kita terus berjalan, sebentar lagi senja pergi.” Perempuan yang berpayung membelakangi langit itu pun mulai melangkahkan kakinya, beranjak meninggalnya hutan pinus yang kelabu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s