Gambar Di Atas Pasir

Seorang perempuan menorehkan gambar jantung hati di atas pasir basah pantai ini. Di belakangnya seorang laki-laki duduk mencakung sambil sibuk dengan telepon genggamnya. “Lihatlah, sayangku…. Kita tinggal menorehkan nama kita di dalam gambar ini!” seru si perempuan dengan penuh semangat. Laki-laki di belakangnya mengangkat wajahnya sebentar, tersenyum kecil lalu menjawab, “Iya sayang.” dan sedetik kemudian matanya kembali menatap layar telepon genggamnya.

Lihatlah perempuan itu. Dia hanya berpura-pura bahagia. Betapa keras usahanya menunjukkan kepada semua orang bahwa dia dan laki-laki itu adalah pasangan serasi nan harmonis. Dia tak pernah sadar bahwa orang-orang di sekitarnya sudah tahu bahwa dia hanya pura-pura bahagia. Dan laki-laki itu? Ah, dia pun seorang pemain watak yang handal. Dia mengikuti saja permainan dari perempuan yang diakuinya sebagai kekasih. Perempuan itu tersenyum, dia ikut tersenyum. Perempuan itu menggelayut mesra di lengannya, dia ikut mengeratkan dekapannya. Perempuan itu merebahkan kepalanya di pundaknya, dia mengecup rambutnya.

Tapi pikirannya entah berada di mana. Yang jelas, jauh dari perempuan itu. Pikirannya berlari-lari meninggalkan rongga kepalanya untuk pergi ke tempat-tempat jauh yang tak terjangkau oleh tubuhnya. Berlari, lalu kembali lagi ke dalam rongga kepalanya. Terus begitu setiap saat hingga kadang dia merasa sangat letih tanpa tahu sebabnya.

Lihatlah laki-laki itu. Dia memainkan perannya dengan sangat luar biasa. Menghapus semua tanya yang berseliweran di kepala si perempuan. Meyakinkannya bahwa hanya dia seorang lah yang mengisi hatinya. Meneguhkan janjinya bahwa mereka akan bersama selamanya.

Perempuan yang pura-pura bahagia itu tak pernah sadar ketika laki-laki itu muncul di pintu rumahnya, ada jejak yang tertinggal di selokan dekat bantaran kali. Jejak berlumpur yang kemudian dikesetkan sebelum dia mengetuk pintu. Jejak-jejak berlumpur yang setiap malam diulanginya tanpa henti dan penuh kerelaan hingga pagi menjelang.

Perempuan yang pura-pura bahagia itu pada suatu ketika sadar bahwa dia hanya pura-pura bahagia. Tapi dia terlalu lemah untuk bisa mengakui bahwa dirinya penuh dengan dusta. Maka dia memutuskan untuk meneruskan kepura-puraannya sambil berharap orang-orang tak ada yang tahu. Diukirnya senyum paling manis ketika dia berpapasan dengan orang lain. Orang-orang itu pun membalas senyumnya, tapi segera berbisik-bisik di balik punggungnya, “Aku harap dia tak lupa sarapan setiap hari karena pura-pura bahagia membutuhkan banyak energi…” ucap salah seorang dari mereka disambut cekikik pelan teman-temannya sebelum akhirnya mereka berlalu.

Perempuan yang pura-pura bahagia itu menatap guratan gambar di atas pasir yang dibuatnya. “Sayang, lihatlah ini….” katanya memanggil laki-laki yang duduk mencakung di belakangnya. “Wow, bagus sekali sayangku….” ujar si laki-laki tanpa mengangkat wajahnya dari layar telepon genggamnya. Perempuan itu menatapnya dengan pandangan putus asa. Lalu bergerak mendekati laki-laki itu sambil membiarkan ombak menghapus gambar di atas pasir tadi….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s