Dia Milikku!

Malam baru saja turun ketika perempuan itu duduk di bangku sebuah taman kota. Sendirian, ditemani remang senja yang mulai menghitam. Ada suara-suara di dalam rongga kepalanya yang tak mau pergi sejak berhari-hari, bahkan berminggu-minggu lamanya. Suara-suara yang seringkali terdengar seperti mengejeknya. Mengingatkan betapa lemah dirinya sebagai seonggok daging bernyawa yang mengaku sebagai “manusia”.

“Dia milikku!” perempuan itu menjerit tertahan. Dia segera tersadar bahwa dia hanya sendirian duduk di bangku taman itu. Tapi suara di dalam rongga kepalanya mengeluarkan tawa yang menggelegar, “Menurutmu?” begitu ujarnya. Perempuan itu menutup kedua telinganya. Tapi tentu saja tak ada gunanya karena suara itu datang dari dalam dirinya.

“Dia milikku! Dan milikku saja!” bisiknya lagi dengan nada geram. Suara di dalam rongga kepalanya lagi-lagi tertawa keras-keras, “Ya, memang itu yang dikatakannya padamu. Tapi pernahkah kamu mempertanyakan di mana dia melewatkan malam-malamnya?” suara dalam kepala itu berujar lagi dengan nada sedikit tak acuh. Perempuan itu tersentak sejenak. “Tentu saja di rumahnya!” desisnya. “Ha!” seruan sinis itu terdengar memekakkan telinganya. “Tentu saja di rumahnya!” ulang suara itu dengan nada mengejek. Perempuan itu merasakan dadanya sesak.

“Kamu yakin?” tanya suara itu lagi. Perempuan itu mengangguk. “Sudah pernah memastikan?” suara itu bertanya lagi dengan nada tajam. Perempuan itu terdiam, “Aku percaya padanya.” jawabnya lirih. Suara tawa kembali membahana dalam rongga kepalanya, “Sure… sure… because he asked you to marry him? So you just blindly believe everything he said? Wooww…!” ujar suara itu dengan nada sinis. Perempuan itu lagi-lagi terdiam. “Kenapa aku harus tak percaya? Kenapa dia harus membohongiku?” tanyanya dengan nada kesal dan menantang. “Because he is what he is, silly!” jawab suara itu sekenanya. “Ah, sudahlah…. batas antara naif dan bodoh itu memang sangat tipis!” sambung suara itu lagi dengan nada tak acuh.

“Tapi dia sekarang selalu bersamaku! Aku tahu, kemarin-kemarin dia sibuk…” jawab perempuan itu dengan nada percaya diri yang dipaksakan. “Yeah… itu karena aku sudah melepaskannya dari hidupku. Nah, nikmatilah! Teruskanlah berpura-pura bahagia dengannya…” suara di dalam kepala itu berucap dan terdengar menjauh.

Tinggallah perempuan itu duduk sendirian di sebuah bangku taman kota. Suara itu sudah tak lagi terdengar menderu-deru di dalam rongga kepalanya. Sejenak dia merasa damai dan tenang. Namun sejurus kemudian dia merasakan satu hal lain…. Hampa. Kosong. “Oh ya, jangan lupa sarapan ya! Karena pura-pura bahagia itu melelahkan!” terdengar sayup suara yang tadi menghuni isi kepalanya berujar di kejauhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s