Percakapan Dengan Langit Senja

photo_2016-12-28_21-41-40
Photo Courtesy of Almerio Lopez

Senja mengintip dari balik ranting pepohonan. Aku masih terus berjalan seorang diri dalam kembara yang nyaris tanpa ujung. Entah apa sebenarnya yang sedang aku cari. Aku punya segalanya tapi juga tak punya apa-apa. Segala sesuatunya seolah semu semata. Hanya waktu yang menunjukkan kepastiannya. Namun dia pun kadang seperti terhenti atau menghilang sejenak. Mungkin waktu juga bisa merasa lelah.

Aku menghentikan langkahku ketika lembayung mulai merona merajai langit. Dia mengajakku menari menyambut senja yang sudah tak malu-malu lagi mengintip dari sela-sela ranting pepohonan. Ketika langkah ini terhenti, barulah penat merangsek masuk dari ujung kaki hingga ke seluruh tubuhku. Mungkin memang sudah terlalu lama aku berjalan tanpa menghiraukan kaki-kaki yang penat menopang tubuh ini.

“Apakah kamu kesepian?” tiba-tiba langit senja bertanya padaku tanpa tedeng aling-aling. Aku tersentak sedikit, “Entah… Kenapa memangnya?” jawabku sedikit asal-asalan. Langit senja tertawa renyah. Gaungnya terdengar hingga ke sudut hutan yang paling dalam. “Sebab sudah lama sekali aku melihatmu berjalan sendirian.” ujarnya menjawab pertanyaanku. Aku tertawa kecil mendengarnya. “Sendiri tidak berarti kesepian. Banyak orang merasa kesepian di tengah keramaian.” jawabku sambil menyalakan rokok. “Lagipula, kadang kita harus bersendirian untuk tetap menjaga kewarasan.” tandasku sambil melepaskan hembusan asap pertama.

“Tapi bukankah ada orang-orang yang tak punya pilihan selain bersendirian?” langit senja kembali bertanya padaku. Aku diam sejenak. “Ya, betul juga. Memang ada orang-orang yang terpaksa harus bersendirian meskipun mereka tak ingin.” jawabku. “Tapi biasanya mereka akan terbiasa dengan situasi itu. Lalu kesendirian akan menjadi candu ketika mereka sudah bisa menikmatinya.” sambungku. Langit senja menatapku dengan dahi berkerut, “Benarkah begitu?” tanyanya lagi. “Apakah selalu begitu?” tanyanya kemudian. Aku berdehem sedikit, “Tidak selalu. Hanya sebagian kecil orang yang mampu menikmati kesendirian itu sehingga menjadi candu. Sisanya kebanyakan akan mencari cara agar tidak harus bersendirian.” jawabku sedikit datar.

“Kamu…” kata langit senja padaku. “Ya?” jawabku sedikit bingung. “Apakah kesendirian telah menjadi candu bagimu?” tanyanya sedikit hati-hati. Aku tersentak sedikit. Ya, aku tak pernah memikirkan hal ini sama sekali. Sudahkah kesendirian menjadi candu bagiku? Mungkin saja… “Kenapa kamu bertanya seperti itu?” aku balik bertanya kepada langit. Dia menggedikkan bahunya, “Kamu sepertinya begitu menikmati keberadaanmu yang hanya seorang diri. Itu saja.” katanya kemudian. Aku masih terdiam, memikirkan pertanyaannya tadi. “Aku mau tidur!” tiba-tiba langit senja pamit sambil melambaikan tangannya. Tak terasa senja sudah berlalu. Lembayung sudah menghentikan tariannya dan malam mulai mengisi sudut-sudut langit dengan kegelapannya. Sebentar lagi purnama akan naik.

Aku merebahkan tubuhku yang penat di rumput. Telentang menatap lagit yang mulai gelap. Apakah sepi ini telah menjadi candu? Entah lah. Mungkin saja…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s