Melarung Luka

photo_2016-12-28_21-41-44
Photo Courtesy of Almerio Lopez

Luka adalah luka. Tak ada urusan apakah dia besar atau kecil. Torehnya pasti meninggalkan kepedihan. Mungkin masih bisa tertahan, tapi bukan berarti tak nyata. Kadang hanya lewat luka aku bisa merasai indahnya hidup. Menikmati rasa sakit yang mengindikasikan bahwa aku masih bernyawa.

Luka adalah luka. Tak peduli luka fisik ataupun batin. Seringkali bisa aku lupakan sejenak, tapi tak akan pernah sepenuhnya hilang. Sekali waktu sakitnya akan muncul lagi. Nikmati saja. Karena kadang hanya lewat luka aku merasa hidup.

Tapi hari ini aku hendak melarung luka di sungai kehidupanku. Ada luka-luka yang tak layak untuk dinikmati lebih jauh lagi. Untuk itu, aku akan melarung mereka. Membiarkan mereka hanyut dengan aliran sungai hingga jauh entah ke mana. Aku tak butuh lagi merasai sakit yang tak memberiku pembelajaran apa-apa. Luka-luka yang akan aku larung ini adalah luka yang kamulah penyebabnya.

Duhai pengkhianat malam, kamu yang datang di malam-malamku tanpa permisi dan pergi di kala matahari mulai naik. Kamu yang menghilang berhari-hari tanpa kabar dan kepastian, membiarkanku larut dalam penantian tak pasti atas nama benda basi bernama “cinta”. Pergilah kamu dari hidupku. Hanyutlah kamu dengan semua kenangan pahit-manis yang pernah kamu tebar untukku. Aku tak lagi perlu merasai kesemuan yang kamu tawarkan padaku. Aku baik-baik saja seperti ini. Sendiri. Tanpamu. Sendiri tapi tak kesepian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s