Matahari di Langit Malam

Malam itu rembulan datang menemui malam dengan raut wajah yang sulit ditebak. Malam menatapnya dengan pandangan bingung. “Ada apa?” malam bertanya penuh rasa ingin tahu. Rembulan diam sejenak. Menghela nafas panjang, lalu mulai bicara… “Aku ingin bisa memeluk matahari ketika sedang berada di langitmu…” begitu ujarnya tanpa tedeng aling-aling. Malam tersentak. “Bagaimana bisa? Itu mustahil!” sanggahnya. Rembulan menatapnya dalam-dalam, “Tidak mustahil. Aku hanya harus bisa meyakinkan matahari bahwa dia bisa mengunjungi langitmu…” ujar Rembulan lagi. “Dengan bantuanmu, tentunya…” sambungnya kemudian.

Rembulan masih mengucapkan sederet kalimat lagi, tapi malam tak lagi bisa mendengar apa yang dikatakan rembulan. Segalanya terasa begitu pekak di telinganya. Rembulan sudah gila! –– begitu pikirnya dalam hati. “Aku tak yakin rencanamu itu akan berhasil!” malam berujar sambil memalingkan wajahnya. Rembulan berdehem kecil, “Aku yakin bisa…. asalkan kamu membantuku…” jawabnya hati-hati. Malam terdiam. Rembulan terdiam. Malam memandang wajah rembulan dengan tatapan kurang suka. “Aku mencintai kalian berdua. Aku ingin melewatkan hari-hariku bersama kalian berdua. Aku tak mau memilih… Aku tak bisa memilih!” rembulan bertutur jujur. Malam terkesiap. Betapa egoisnya. Betapa serakahnya rembulan yang tak ingin meninggalkan langit malam, namun ingin tetap memeluk matahari.

Matahari tak akan pernah bisa berada di langit malam. Itu sudah. Habis perkara!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s