Senyawa Cinta

Aku selalu berkata cinta bukanlah cinta jika tak menuai lara. Dan cinta bukanlah cinta, jika tak menoreh luka. Cinta itu candu! Cinta itu racun! Candu dan racun yang dengan rela kita jelajahi kepahitan dan kesakitannya. Entah kenapa. Mungkin karena cinta selalu berkalang posesifitas. Mungkin juga karena manusia pada dasarnya adalah sado-masochists yang menikmati rasa sakit. Mungkin cinta hanya bisa dimaknai sepenuhnya ketika berbalut kesakitan, kepahitan dan kepedihan. Entah lah….

Pada suatu malam aku bertanya pada rembulan, “Punyakah kamu sebuah konsep tentang cinta?”. Rembulan tertawa kecil, “Tidak.” jawabnya pendek. Dahiku berkerut, “Lalu?” tanyaku penasaran. “Cinta ya cinta. Tak ada konsep tentangnya bagiku.” sahut rembulan lagi. Aku terdiam sejenak sebelum meneruskan pertanyaanku, “Mana yang menjadi pilihanmu; platonis atau eros?” tanyaku lagi. Rembulan terdiam sejenak, sepertinya berpikir. “Aku tidak tahu. Tapi aku lebih memilih cinta yang tidak perlu penyatuan dalam bentuk persetubuhan…” rembulan akhirnya buka suara. Aku tertegun. Tak pernah berpikir bahwa ada yang mampu dan sudi mengusung jenis cinta yang satu itu.

“Apakah itu sama dengan prinsip ‘mencintai tak harus memiliki’ yang biasa aku dengar?” aku melanjutkan pertanyaanku kepada rembulan. “Sepertinya tidak sama persis.” ujarnya, “Kita bisa saja saling memiliki tapi tak harus ada penyatuan cinta dalam bentuk persetubuhan.” sambungnya lagi. Aku manggut-manggut sedikit sambil termangu. Tak yakin akan kemampuan manusia untuk menahan diri hingga sedemikian rupa. “Jika cinta tak perlu dipersatukan lewat persetubuhan, lalu lewat apa?” tanyaku lagi dengan sedikit penasaran. Rembulan tertawa kecil, “Lewat senyawa-senyawa cinta.” katanya sambil melebarkan pendarnya yang kebiruan. “Seperti apa itu?” aku sedikit mencecarnya. Rembulan terdiam sambil menatapku, “Tatapan mata, genggaman tangan, belaian, percakapan, perhatian. Hal-hal seperti itu lah…” jawabnya dengan suara teduh. Aku lagi-lagi terdiam.

“Kenapa kamu diam saja?” kini ganti rembulan yang bertanya padaku. Aku tersentak sedikit, “Aku berpikir…” jawabku pendek. “Soal apa?” tanyanya lagi. “Aku menterjemahkan persetubuhan dengan makna yang berbeda…” jawabku pelan. Dahi rembulan berkerut sedikit, “Seperti apa?” tanyanya dengan nada penasaran. “Bagiku, ketika aku bersentuhan dengan orang lain pun itu sudah merupakan sebuah persetubuhan…” ujarku mencoba memaparkan. Persetubuhan adalah persentuhan tubuh bagiku. Tak melulu soal kelamin. Tak melulu soal libido. Tak selalu melibatkan nafsu. Ketika sinar rembulan jatuh di ujung jemariku, dia telah menyetubuhiku. Entah secara sengaja ataupun tidak. “Ketika sinar matahari menyentuh kulitku di senja hari, ketika itulah aku bersetubuh dengan lembayung…” lanjutku lagi. “Itulah bedanya kamu…” ujar rembulan sambil tertawa kecil.

Senyawa cinta. Benarkah beberapa kombinasi senyawa ini sudah punya cukup kekuatan untuk mempersatukan? Di mataku, cinta selalu memiliki elemen posesifitas. Karenanya, ‘cinta tak harus memiliki’ tak pernah mampir di dalam kamusku. Itu adalah the highest level of bullshit. 

Ah, sungguh betapa nikmatnya jika bisa memiliki sebentuk cinta yang dipersatukan hanya lewat tautan jemari dan tak perlu lagi ada penetrasi! Andai saja…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s