Mencari Rembulan

Perempuan itu menatapku tajam. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sudah ada di depanku. Duduk mencakung dengan wajah masam tanpa senyum. Aku membalas tatapannya lalu berkata, “Berhentilah membuntutiku!” Perempuan itu mencebik sedikit, “Aku tidak membuntutimu!” ujarnya sambil membuang pandangan ke arah lain. Aku tertawa keras-keras, “Sungguh aku ingin mempercayai kata-katamu, tapi sayang sekali… Tidak bisa! Kamu jelas membuntutiku. Untuk apa?” tanyaku tajam.

“Di mana kamu sembunyikan dia?” tanyanya keras setengah menjerit. Aku menatapnya dengan pandangan heran, “Menyembunyikan siapa?” aku balik bertanya. “Rembulan! Aku tahu kamu menyembunyikannya dariku. Dia itu milikku!” ujarnya setengah memekik. Aku tertawa keras-keras. “Bless your little delusional mind!” jawabku sedikit sarkastik sambil mulai melangkah. “Tunggu!” panggilnya sambil mengejar langkahku. “Kembalikan dia padaku. Dia itu sumber kebahagiaanku. Aku tak bisa hidup tanpanya…” perempuan itu berteriak padaku. Aku hanya menggeleng, “Bagaimana aku bisa mengembalikan sesuatu yang tak pernah aku ambil? Mustahil!” dengusku sambil terus berjalan. “Tapi dia menghilang dan aku tak bisa menemukannya!” ujarnya lagi setengah putus asa. Aku menghentikan langkahku dan menatapnya, “Mungkin kamu mencari di tempat yang salah. Itu sudah!” kataku datar sambil meneruskan langkahku.

“Berhentilah!” ujarku sedikit ketus. “Berhenti apa?” perempuan itu balik bertanya padaku masih dengan nada merajuk. “Berpura-pura bahagia!” ujarku pendek sambil menyalakan sebatang rokok. Perempuan itu terdiam sejenak. “Kamu itu setiap hari hanya berpura-pura segala sesuatunya baik-baik saja. Mengumbar kemunafikan!” sambungku sambil mempermainkan asap rokokku. Perempuan itu menatapku dengan pandangan meradang, “Tapi aku memang bahagia dengannya!” jawabnya keras, “Are you really??” sambarku cepat sambil menatap matanya dalam-dalam. Perempuan itu tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatapku. Matanya merah, sedikit berair. Ada keraguan terbersit di sana. Aku hanya tersenyum sinis, lalu kembali melangkahkan kakiku.

“Tapi aku mencintainya!” tiba-tiba aku mendengar suaranya lantang di belakangku. Aku pun serta merta menghentikan langkahku dan membalikkan badanku. Perempuan itu tegak sendirian di tengah kesunyian. “Lalu?” tanyaku sedikit acuh tak acuh. “Aku tak akan bahagia tanpanya….” ujarnya lirih. Aku diam sejenak, “Di situ lah kesalahanmu. Jangan pernah menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain. Sekalipun itu seseorang yang kamu cintai…” jawabku tegas. “Tapi dia menghilang… dan aku tak bisa menemukannya…” ujarnya dengan nada sedih dan seolah tidak menghiraukan isi ucapanku. Aku hanya menghela nafas, “Dia tidak hilang. Rembulan tidak pernah hilang. Dan jika kamu tak bisa menemukannya, mungkin dia memang tak ingin ditemukan.” sambungku lagi sambil bersiap untuk melangkah lagi. “Tapi dia selalu berkata kalau dia mencintaiku dan menginginkanku. Dan hanya aku seorang…” sambung perempuan itu lagi. Aku sungguh-sungguh nyaris kehilangan kesabaran menghadapinya. “Dan kamu percaya itu?” ujarku sedikit dingin dan tajam. ‘Tentu saja!” jawabnya dengan mantap. “Ya sudah jika begitu, tunggu saja sampai dia muncul kembali. Tidak usah dicari!” sambarku sambil mulai berjalan meninggalkan perempuan itu.

“Hey! Tunggu!” panggilnya. Aku memejamkan mataku sambil terus melangkah, “Berhentilah berpura-pura bahagia!” aku berseru tanpa menoleh.

Aku meneruskan langkahku dengan sedikit lebih cepat. Ada rasa ingin segera jauh dari perempuan itu. Ah, andai saja dia tahu bahwa Rembulan tak pernah hilang. Dan aku tak pernah bisa mengembalikan apa yang tak aku ambil. Rembulan datang kepadaku dengan penuh kerelaan hati. Aku tak pernah mengambilnya dari siapapun. Dan Rembulan juga selalu pergi dan menghilang dariku sesuka hatinya. Tapi aku selalu tahu ke mana harus mencarinya. Perempuan itu? Tidak. Mungkin lain kali dia harus mencoba untuk mencari Rembulannya yang hilang di atap rumahku…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s